Breaking! IHSG Anjlok 1%
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak melemah pada perdagangan sesi I hari ini. IHSG berada di level 5.209,5, turun 69,39 poin atau 1,31% pada pukul 09.35 WIB.
Padahal, pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat di level 5.310,85. Indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di 5.326,96, namun tekanan jual kemudian mendorongnya turun secara bertahap. Level terendah hari ini tercatat di 5.204,79.
IHSG sempat naik-turun di kisaran 5.230 hingga 5.300 pada pertengahan sesi. Setelah sempat rebound mendekati level 5.270 hingga 5.280, indeks kembali tertekan dan bergerak menuju area 5.210
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebesar 90,27 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp5.237,63 miliar.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati langkah Bursa Efek Indonesia (BEI), pemerintah hingga Danantara dalam merespons pengumuman MSCI, aksi pembelian kembali saham oleh sejumlah emiten konglomerat, serta arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat penegakan aturan di pasar modal.
Pasar keuangan Indonesia pada perdagangan Rabu (21/10/2026) juga masih dibayangi sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri. Fokus utama investor tertuju pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) hari ini. Dari mancanegara, keputusan bank sentral China yang kembali menahan suku bunga serta rilis data ketenagakerjaan Inggris turut mewarnai arah pasar.
Optimisme pasar terutama dipicu rencana Danantara menambah kepemilikan di sejumlah BUMN berfundamental kuat. CEO Danantara Rosan Roeslani menilai penurunan harga saham justru membuka peluang investasi jangka panjang. Menurutnya, valuasi saham perbankan kini relatif murah, dengan rata-rata PBV di bawah satu kali, padahal kondisi perbankan masih sehat dan dividennya menarik. Pembelian akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi pasar. Langkah ini diperkuat oleh rencana BEI mengeluarkan saham berkepemilikan terkonsentrasi (HSC) dari perhitungan IHSG, serta arahan Presiden Prabowo agar OJK memperketat penegakan aturan pasar modal.
Meski demikian, bayang-bayang MSCI belum sepenuhnya hilang. Kekhawatiran bahwa Indonesia bisa diturunkan dari Emerging Market menjadi Standalone Market menjadi pemicu utama aksi jual besar-besaran pekan lalu. Pasar kini menanti realisasi pembelian saham oleh Danantara, sekaligus menguji apakah reli saham BUMN dapat berlanjut.
Bola panas kini berada di tangan BI. Rapat Dewan Gubernur yang digelar sejak Selasa akan mengumumkan keputusan suku bunga hari ini, di tengah rupiah yang sempat kembali menembus Rp18.000 per dolar AS. Polling CNBC Indonesia Research terhadap 13 institusi menunjukkan 10 responden memperkirakan BI menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 6,00%. Tiga responden lainnya memprediksi suku bunga ditahan di 5,75%. Jika terjadi, kenaikan ini menjadi yang pertama setelah BI menahan suku bunga tiga bulan berturut-turut, menyusul kenaikan kumulatif 100 bps pada Mei-Juni 2026.