MARKET DATA

Rupiah Ditutup Koreksi, Dolar AS Melaju ke Rp18.030

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
19 October 2026 15:11
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda masih belum mampu keluar dari level Rp18.000-an per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026), di tengah tekanan yang belum mereda di pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,17% ke posisi Rp18.030/US$, dibandingkan penutupan Jumat (16/10/2026) di level Rp18.000/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,10% ke posisi 101,936.

Pergerakan rupiah hari ini masih dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi pasar keuangan domestik menyusul pengumuman MSCI mengenai potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Tekanan tersebut berlanjut pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok 4,31% ke level 4.961,88, dengan 602 saham melemah. Sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk BBCA, BBRI, dan TLKM, juga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 7%.

Pelemahan IHSG semakin dalam hingga mencapai 5,05% ke level 4.923,26 pada akhir sesi pertama, mencerminkan tekanan jual yang masih kuat di pasar saham domestik.

Di tengah kondisi tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan bertemu secara daring dengan MSCI pada pukul 15.30 WIB hari ini untuk meminta klarifikasi terkait rencana perubahan status pasar saham Indonesia.

"Terkait itu, nanti siang kami akan meeting online dengan MSCI," ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik kepada wartawan di Gedung BEI.

Jeffrey menjelaskan bahwa komunikasi dengan investor global menunjukkan para pelaku pasar juga tidak mengetahui sebelumnya mengenai pengumuman MSCI tersebut. Ketidakpastian ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio investor asing dan menambah tekanan terhadap rupiah.

Pun demikian, Bank Indonesia (BI) terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya melalui intervensi yang terus dilakukan.

"Dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," kata Erwin dikutip Senin (19/10/2026).

Erwin menjelaskan, tekanan terhadap kurs rupiah pada saat itu terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS dan menekan pasar keuangan domestik.

Menurut Erwin, kondisi ini akan menyebabkan arus keluar dana dari aset portofolio domestik masih akan berlanjut. "Arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut," tegas Erwin.

Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 20-21 Oktober 2026, dengan keputusan suku bunga dijadwalkan diumumkan pada Rabu (21/10/2026).

Pada pertemuan September lalu, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Di tengah tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik, keputusan BI pekan ini menjadi perhatian investor, terutama terkait langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Usai Perry Mundur dari BI, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.000/US$


Most Popular
Features