MARKET DATA

Bursa Asia Kompak Melemah, Investor Cemas Prospek Bisnis AI

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
19 October 2026 08:37
papan saham elektronik yang menunjukkan kerugian awal indeks Nikkei 225 Jepang di sebuah perusahaan sekuritas, Kamis, 3/4/2025 di Tokyo..(AP Photo/Shuji Kajiyama)
Foto: AP/Shuji Kajiyama

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia bergerak mayoritas melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek bisnis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan keberlanjutan belanja infrastruktur teknologi.

Melansir CNBC, pelemahan tersebut terjadi setelah bursa saham Amerika Serikat (AS) mencatat penurunan mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir, terutama pada saham-saham teknologi.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,65%, sedangkan indeks Topix melemah 1,12%. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 1,29% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,93%, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia bergerak berlawanan arah dengan menguat 0,37%.

Tekanan di pasar saham global terjadi setelah indeks S&P 500 melemah hampir 2% sepanjang pekan lalu, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni. Indeks Nasdaq juga merosot 4,5% sekaligus mengakhiri tren penguatan selama empat pekan berturut-turut.

Kekhawatiran investor terhadap prospek bisnis AI menguat setelah CNBC melaporkan, mengutip sejumlah sumber, bahwa pendapatan Anthropic pada kuartal III-2026 mencapai US$16,8 miliar, meningkat dari US$11,6 miliar pada kuartal sebelumnya. Meski mencatat pertumbuhan pendapatan, angka tersebut memicu pertanyaan di kalangan investor mengenai kecepatan pertumbuhan bisnis AI di tengah besarnya investasi yang digelontorkan untuk membangun infrastrukturnya.

Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah CoreWeave, penyedia infrastruktur komputasi awan yang membangun pusat data dengan dukungan pembiayaan utang dan menyewakannya kepada perusahaan teknologi. Saham perusahaan yang terkait erat dengan bisnis AI tersebut anjlok 25% sepanjang pekan lalu, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak November 2025.

Kekhawatiran terhadap CoreWeave juga merambah pasar obligasi korporasi, dengan credit default swaps (CDS) perusahaan tersebut mencapai level yang mengindikasikan tekanan kredit serius. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran investor mengenai risiko pembiayaan dan keberlanjutan investasi besar-besaran di sektor AI.

Tekanan juga terlihat pada pasar kredit perusahaan teknologi secara lebih luas. Para trader Goldman Sachs mencatat pada Jumat bahwa selisih imbal hasil kredit atau credit spreads untuk sektor AI, khususnya perusahaan hyperscaler, telah mencapai level terlebar sepanjang tahun ini.

"Terakhir kali spread hampir selebar ini, saham-saham terkait berada 15% lebih rendah," tulis para trader Goldman Sachs dalam catatan mereka.

Mereka juga menilai pelebaran spread kredit memaksa investor mempertimbangkan dampak perlambatan pertumbuhan belanja AI. Menurut catatan tersebut, belanja modal atau capital expenditure (capex) AI kemungkinan telah mencapai puncaknya, sehingga perhatian pasar kini beralih pada pembiayaan, keberlanjutan investasi, dan tingkat pengembalian modal.

Sentimen pasar turut dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi global. Serangan terhadap kapal di Teluk Persia dilaporkan meningkat, sementara Rusia dan Ukraina saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk serangan Ukraina terhadap terminal minyak di St. Petersburg, Rusia, pada Minggu.

Kontrak berjangka minyak untuk pengiriman jangka panjang mulai menguat karena pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan infrastruktur energi berlangsung hingga 2027. Namun, pada perdagangan Minggu, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tercatat sedikit melemah.

Di tengah tekanan tersebut, investor akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan besar AS pada pekan ini, termasuk Meta Platforms dan Tesla. Hasil kinerja kedua perusahaan tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai prospek sektor teknologi sekaligus membantu menstabilkan sentimen pasar.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Nikkei & Kospi Turun Tipis, Bursa Asia Melemah di Awal Pekan


Most Popular
Features