MARKET DATA

Bursa Asia Berguguran, Kospi Anjlok 5,6%

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
15 October 2026 08:45
Papan elektronik menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan, di ruang transaksi sebuah bank, di Seoul, Korea Selatan, 7 April 2025. Yonhap/via REUTERS
Foto: via REUTERS/Yonhap News Agency

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026), setelah inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada September meningkat lebih cepat dari perkiraan. Data tersebut mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini, sehingga menekan pasar saham global.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 1,2%, dengan tekanan terbesar berasal dari Korea Selatan yang mengalami penurunan tajam. Indeks Kospi anjlok 5,6%, sementara Nikkei 225 Jepang turun 1,3% dan kontrak berjangka S&P 500 terkoreksi 0,3%.

Kepala Riset Pepperstone Group, Chris Weston, mengatakan pasar Asia menghadapi sesi perdagangan yang kembali sulit. Menurutnya, kontrak berjangka Kospi dan Nikkei mengindikasikan pelemahan lanjutan saham teknologi, di tengah perhatian investor terhadap arus dana ETF berleverage dan risiko kredit dalam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).


Pada perdagangan Rabu waktu setempat, bursa saham Wall Street mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut setelah data inflasi konsumen AS melampaui ekspektasi pada September. Indeks S&P 500 turun 1,1%, Nasdaq Composite merosot 1,9%, sementara indeks saham semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (SOX) memperpanjang penurunan untuk hari keenam berturut-turut.

Tekanan terutama melanda saham-saham teknologi yang sensitif terhadap kenaikan biaya pinjaman, termasuk Oracle dan CoreWeave. Prospek suku bunga yang lebih tinggi turut memperbesar kekhawatiran investor terhadap pembiayaan bisnis AI dan jadwal penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Analis JPMorgan menyebut inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memang menjadi pemicu awal aksi jual di pasar saham AS. Namun, saham teknologi menjadi pendorong utama pelemahan, dengan risiko pendanaan dan jadwal IPO perusahaan AI masih menjadi perhatian investor.

Data indeks harga konsumen (CPI) AS tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam setahun ke depan, bahkan berpotensi pada pertemuan bulan ini. Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 31,6% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober, naik dari 22,1% sehari sebelumnya.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 4,4 basis poin menjadi 5,144%. Sementara itu, dolar AS melemah 0,2% terhadap yen Jepang ke level 157,925 yen per dolar AS, sedangkan euro menguat 0,3% menjadi US$1,1194.

Dari Australia, dolar Australia melemah 0,2% menjadi US$0,6956 setelah data ketenagakerjaan menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan sebanyak 39.300 pada September. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sebanyak 20.000 pekerjaan.

Investor selanjutnya akan mencermati pidato sejumlah pejabat The Fed yang berbicara di Bangkok, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh, untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS. Pasar juga menantikan rilis data harga produsen (PPI) dan penjualan ritel AS yang dijadwalkan pada Kamis, serta laporan kinerja kuartal III-2026 dari produsen chip AI Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) pada sesi perdagangan Asia.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bursa Asia Dibuka Variatif, Investor Cermati Saham Chip dan Inflasi AS


Most Popular
Features