MARKET DATA

Investor Kini Maunya Sebentar Pegang Surat Utang RI, Ini Penyebabnya

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
15 October 2026 06:50
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI, Suminto saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY,
Foto: Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI, Suminto saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto buka suara ihwal preferensi investor yang kini lebih banyak memilih surat utang tenor pendek hingga menengah ketimbang panjang. Tercermin dari incoming bid surat utang negara tenor pendek pada lelang terakhir, yaitu 13 Oktober 2026.

Suminto menjelaskan, kondisi di pasar surat utang negara (SUN) itu bukan dipicu lunturnya kepercayaan investor kepada Indonesia, melainkan tren yang biasa terjadi secara global di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.

"Incoming bid yang lebih banyak pada tenor pendek hingga menengah merupakan dinamika yang lazim di tengah volatilitas pasar dan ekspektasi kenaikan suku bunga global. Hal ini mencerminkan strategi investor dalam pengelolaan risiko dan fleksibilitas portofolio," ucap Suminto kepada CNBC Indonesia, Kamis (13/10/2026).

Suminto menegaskan, lelang surat utang negara pada 13 Oktober 2026 secara keseluruhan justru menunjukkan hasil yang cukup baik, dengan incoming bids meningkat menjadi Rp64,86 triliun atau 2,16 kali dari target indikatif Rp30 triliun.

Di tengah risiko global dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, ia menegaskan, hasil lelang SUN itu menunjukkan minat investor tetap terjaga, terutama pada tenor pendek yang mencerminkan preferensi investor di tengah dinamika dan kondisi pasar saat ini.

"Di sisi lain, dukungan investor jangka panjang tetap kuat, sehingga Pemerintah dapat memenangkan Rp35 triliun dengan tetap mempertimbangkan aspek kehati-hatian dan efisiensinya (cost of funds)," tutur Suminto.

Partisipasi investor asing ia tegaskan juga tetap terjaga, terlihat dari incoming bids investor asing sebesar Rp9,63 triliun dalam lelang obligasi pada 13 Oktober, dan dimenangkan (awarded) sebesar Rp4,31 triliun.

"Secara keseluruhan, hasil lelang ini mencerminkan resiliensi pasar SUN dan kepercayaan investor terhadap pengelolaan pembiayaan Pemerintah," ungkap Suminto.

Ia pun memastikan, pemerintah terus mengelola penerbitan surat berharga negara (SBN) secara pruden dan oportunistik, dengan mencermati dinamika pasar global serta mempertimbangkan perkembangan kebutuhan pembiayaan APBN.

"Dan kondisi permintaan investor untuk mendapatkan biaya utang (cost of fund) dan risiko yang terkendali serta menjaga kesinambungan pembiayaan secara optimal," paparnya.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil lelang sembilan seri surat utang negara pada 13 Oktober 2026, bid to cover ratio tertinggi terjadi pada obligasi tenor pendek, seperti SPN01261114 yang mencapai 4,8 kali, dan SPN03270113 sebesar 3,54 kali.

Sementara itu, untuk tenor menengah, seperti FR0110 bid to cover ratio nya 1,94 kali dan FR0111 sebanyak 2,08 kali. Sedangkan tenor panajang seperti FR0107 hanya 1,45 kali dan FR0105 sebanyak 1,15 kali.

Dibanding tahun lalu, tepatnya hasil lelang pada 21 Oktober 2025 bid to cover ratio untuk tenor pendek seperti SPN01251122 hanya 1,03 kali, dan SPN12261008 sebesar 1,87 kali.

Sedangkan untuk tenor menengah seperti FR0109 bid to cover ratio 6,91 kali, dan FR0106 sebesar 7,26 kali. Adapun untuk tenor panjang saat itu seperti FR0102 bid to cover ratio nya masih mampu mencapai 3,81 kali, dan FR0105 sebesar 3,91 kali.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menganggap, semakin tingginya penawaran investor terhadap SUN tenor pendek hingga menengah saat ini lebih disebabkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi menengah panjang, karena tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.

Meski begitu, ia menegaskan, kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga melanda berbagai negara, termasuk negara-negara maju.

"Tampaknya investor masih melihat prospek jangka menengah-panjang masih penuh ketidakpastian. Tren yang sama terjadi pada issuance obligasi negara-negara lain. Contoh untuk US treasury 30 tahun juga bid (permintaan) nya juga sangat lemah," tegasnya David kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10/2026).

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Investor Pilih Berebut Surat Utang Tenor Pendek, Ragukan Ekonomi RI?


Most Popular
Features