MARKET DATA

Rupiah Dibuka di Zona Merah, Dolar AS Menguat ke Rp17.900

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
14 October 2026 09:09
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026), setelah gagal mempertahankan penguatan yang dicatatkan pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.900/US$ atau melemah 0,08% dibandingkan penutupan Selasa (13/10/2026) di Rp17.885/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,07% ke posisi 102,130.

Pergerakan rupiah pada awal perdagangan hari ini turut dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global, mulai dari komitmen pemerintah menjaga kredibilitas fiskal hingga perkembangan inflasi China.

Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pemerintah akan mempertahankan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB), serta rasio utang pemerintah tidak melampaui 60% terhadap PDB.

Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Presiden World Bank Group Ajay Banga di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2026).

"Satu-satunya mata uang yang kami miliki adalah kredibilitas. Karena itu, kami ingin menjaga kredibilitas kami dan menegaskan kembali komitmen terhadap defisit anggaran 3% serta rasio utang 60% terhadap PDB," ujar Suahasil.

Penegasan tersebut menjadi perhatian pasar karena disiplin fiskal merupakan salah satu faktor yang memengaruhi persepsi risiko dan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk instrumen berdenominasi rupiah.

Sementara dari eksternal, pelaku pasar mencermati rilis data inflasi China yang meningkat pada September 2026, tetapi masih berada di bawah ekspektasi pasar.

Inflasi konsumen China secara tahunan tercatat sebesar 0,9%, meningkat dari 0,8% pada Agustus, tetapi lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 1%. Angka tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Juni 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga di China mulai meningkat, meskipun kenaikannya belum merata. Perkembangan inflasi China turut menjadi perhatian pasar karena kondisi permintaan di negara tersebut dapat memengaruhi prospek perdagangan Indonesia, mengingat China merupakan salah satu mitra dagang utama Tanah Air.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp17.875


Most Popular
Features