Pendapatan Naik 54%, Waskita (WSKT) Masih Rugi Rp2,87 T di Q3 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten konstruksi pelat merah PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih membukukan rugi bersih pada sembilan bulan pertama 2026, meski pendapatannya melonjak tajam.
Mengutip laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit, rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp2,87 triliun hingga 30 September 2026. Angka ini menyusut 9,54% dibandingkan rugi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,17 triliun.
Rugi per saham dasar ikut turun menjadi Rp99,70, dari sebelumnya Rp110,21 per saham.
Dari sisi top line, Waskita membukukan pendapatan usaha Rp8,13 triliun, naik 53,73% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Rp5,29 triliun pada 9M25.
Lonjakan terbesar datang dari segmen jasa konstruksi yang naik 71,46% yoy menjadi Rp6,45 triliun. Pendapatan jalan tol juga tumbuh 14,93% menjadi Rp987,74 miliar. Sebaliknya, penjualan precast turun 28,45% menjadi Rp362,45 miliar.
Kementerian Pekerjaan Umum menjadi pemberi kerja terbesar dengan kontribusi pendapatan Rp3,91 triliun, melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan Rp963,02 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Margin Tergerus
Kenaikan pendapatan tidak diikuti laba kotor. Beban pokok pendapatan membengkak menjadi Rp7,17 triliun dari Rp4,31 triliun, sehingga laba bruto justru turun 2,09% menjadi Rp959,44 miliar.
Margin laba kotor perseroan pun menyusut menjadi 11,81%, dari 18,54% pada 9M25.
Beban keuangan masih menjadi pemberat utama kinerja. Hingga akhir September 2026, beban keuangan Waskita tercatat Rp2,79 triliun, relatif tidak jauh berbeda dari Rp2,84 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan juga menanggung bagian rugi entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp149,41 miliar.
Ekuitas Induk Negatif
Dari sisi neraca, total aset Waskita per 30 September 2026 tercatat Rp73,07 triliun, naik 3,30% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp70,73 triliun.
Total liabilitas naik 7,41% menjadi Rp72,03 triliun, dari Rp67,06 triliun. Akibatnya, total ekuitas anjlok 71,71% menjadi Rp1,04 triliun dari Rp3,67 triliun.
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan tercatat negatif Rp3,34 triliun, memburuk dari negatif Rp1,03 triliun pada akhir 2025. Posisi ekuitas positif secara total masih ditopang kepentingan non-pengendali sebesar Rp4,38 triliun.
Posisi kas dan setara kas juga tergerus 65,90% menjadi Rp1,50 triliun, dari Rp4,41 triliun pada akhir tahun lalu. Arus kas bersih untuk aktivitas operasi tercatat minus Rp1,14 triliun, sementara aktivitas investasi menyerap Rp1,17 triliun.
Dalam catatan laporan keuangannya, manajemen Waskita mengungkapkan bahwa rugi yang dialami menyebabkan akumulasi defisit mencapai Rp20,80 triliun. Selain itu, liabilitas jangka pendek perseroan melampaui aset lancarnya sebesar Rp12,48 triliun.
Untuk memitigasi risiko tersebut, perseroan menjalankan delapan stream inisiatif penyehatan keuangan, di antaranya divestasi bertahap sisa ruas tol, pemanfaatan penjaminan pemerintah, serta restrukturisasi utang induk dan anak usaha.
Terkait restrukturisasi utang dengan kreditur Master Restructuring Agreement (MRA), Waskita telah membayar Tranche A sebesar Rp2,198 triliun sehingga sisa pokok menjadi Rp2,154 triliun. Perseroan juga telah membayar Tranche B sebesar Rp280,7 miliar, dengan sisa pokok Rp21,736 triliun.
Restrukturisasi Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 juga telah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 3 September 2026. Dengan begitu, restrukturisasi seluruh obligasi non-penjaminan yang terkait dengan empat Perjanjian Wali Amanat telah rampung.
Adapun outstanding fasilitas Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) per 30 September 2026 tercatat Rp5,06 triliun. Atas fasilitas Obligasi III Tahun 2021, perseroan telah mengajukan klaim penjaminan sebesar Rp722 miliar pada 25 September 2026.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]