MARKET DATA

Saham Prajogo Kompak Berguguran, BREN-CUAN Ambles Hampir 13%

Redaksi,  CNBC Indonesia
12 October 2026 14:43
Infografis: Prajogo Pangestu, Dulu Sopir Angkot Kini Terkaya ke-3 RI
Foto: Infografis/Prajogo Pangestu, Dulu Sopir Angkot Kini Terkaya ke-3 RI/Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu kompak berguguran pada perdagangan Senin (12/10/2026). Tak satu pun saham di kelompok usaha ini yang mampu bertahan di zona hijau, dengan koreksi terdalam menembus hampir 13%.

Berdasarkan data Stockbit per pukul 14.30 WIB, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi yang paling dalam terkoreksi. Saham CUAN ambles 12,99% atau 100 poin ke level Rp670 per saham.

Menyusul di belakangnya, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) anjlok 12,59% atau 340 poin ke Rp2.360. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) juga longsor 12% atau 570 poin ke Rp4.180.

Tekanan turut menghantam saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang merosot 9,25% atau 155 poin ke Rp1.520, serta saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang terkoreksi 7,21% atau 40 poin ke Rp515.

Sementara itu, induk usaha grup, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), mencatatkan pelemahan paling tipis di antara saudara-saudaranya, yakni turun 4,98% atau 70 poin ke Rp1.335.

Seret IHSG ke Zona Merah

Rontoknya saham-saham Prajogo terjadi bersamaan dengan tekanan hebat di pasar saham domestik. Pada penutupan sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 117,98 poin atau 1,94% ke level 5.975, setelah sempat menyentuh titik terendah intraday di 5.971 atau turun 2%. Padahal, indeks sempat dibuka menguat di 6.109,32 dan menyentuh level tertinggi 6.128,72 di awal sesi, sebelum tekanan jual menyeretnya ke zona merah hingga menjelang pukul 10.00 WIB.

Seluruh sektor saham di BEI kompak melemah, dengan energi, infrastruktur, dan material dasar menjadi tiga sektor dengan penurunan terdalam. Ketiga sektor ini merupakan rumah bagi emiten-emiten Prajogo, mulai dari BREN dan CDIA di sektor infrastruktur, CUAN dan PTRO di sektor energi, hingga TPIA dan BRPT di sektor barang baku.

BREN dan TPIA bahkan tercatat masuk jajaran saham penekan utama IHSG pada sesi I, bersama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Di saat bersamaan, investor asing juga kabur dari pasar. Data Stockbit Sekuritas mencatat asing membukukan jual bersih (net foreign sell) Rp166,22 miliar di seluruh pasar sepanjang sesi I, dengan total transaksi asing Rp3,33 triliun, terdiri dari pembelian Rp1,58 triliun dan penjualan Rp1,75 triliun.

Bayang-bayang MSCI dan Sentimen Global

Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menilai isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi perhatian utama pelaku pasar, termasuk risiko penurunan klasifikasi Indonesia menjadi pasar frontier. "Issue-issue di market masih berkait MSCI," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Sebelumnya, MSCI membekukan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS), serta penambahan saham baru dan kenaikan status saham dalam indeks. Kebijakan tersebut akan dievaluasi jelang peninjauan indeks November 2026, dengan pengumuman diperkirakan keluar akhir Oktober.

Dari eksternal, pasar juga dibayangi sejumlah sentimen global. Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman usai serangan mematikan di Bandara Riyadh, langkah yang berpotensi menyeret AS ke front baru dalam perang Iran.

Pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi AS dan China serta neraca perdagangan China pada Rabu (14/10/2026), di tengah pertemuan IMF dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober 2026 serta pidato sejumlah pejabat The Fed pada 14-16 Oktober.

BRI Danareksa Sekuritas memandang prospek IHSG dalam jangka pendek cenderung negatif di tengah tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik. Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dinilai berisiko memperkuat dolar AS, menekan rupiah, dan memicu arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Asing Net Sell Jumbo Pasca Pengumuman MSCI


Most Popular
Features