MARKET DATA

IHSG Anjlok 1% Ini Penyebabnya

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
12 October 2026 11:03
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada perdagangan pertengahan sesi I, Senin (12/10/2026) setelah mengawali hari di zona hijau. Pada pukul 10.42 WIB, IHSG berada di 6.032,32, turun 61,44 poin atau 1,01 persen dari penutupan sebelumnya. Level terendah hari ini tercatat di 6.029,80.

Padahal, indeks dibuka pada pukul 09.00 WIB di level 6.109,32, naik dari penutupan sebelumnya di 6.093,76. Penguatan hanya bertahan sebentar. Di awal sesi, IHSG sempat menyentuh level tertinggi hari ini di 6.128,72, lalu mulai turun dan bergerak di zona merah. Tekanan jual terus berlanjut hingga menjelang pukul 10.00 WIB.

Pelemahan IHSG pada pagi ini disebbaan oleh sektor infrastruktur yang anjlok 4,2%, disusul sektor energi yang anjlok 2,2%, dan sektor material dasar tang melemah 1,3%.

Saham-saham penekan IHSG antara lain, PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), dan PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).

Sementara saham-saham penekan koreksi IHSG antara lain, PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. Multipolar Technology Tbk. (MLPT), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).

Pasar keuangan global dan Indonesia pekan ini akan dibayangi sejumlah agenda penting dan rilis data-data ekonomi China hingga AS.

Pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, Thailand menjadi salah satu sorotan. Sejumlah pejabat penting akan hadir dan menyampaikan pidato termasuk Chairman The Fed Kevin Warsh.

Rabu pekan ini akan sangat krusial karena ada data inflasi AS & China serta neraca dagang China.

Dari dalam negeri, sentimen relatif sepi. Namun, hawa politik dikhawatirkan memanas menjelang peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Berikut beberapa sentimen hari ini dan sepanjang satu pekan ke depan:

1. Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Serang Houthi, Perang Iran Meluas

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman setelah serangan mematikan di Bandara Riyadh. Langkah ini berpotensi menyeret AS ke front baru dalam perang Iran.

"Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Sabtu (10/10/2026), dikutip dari Reuters.

2. Pertemuan IMF dan Bank Dunia (12-18 Oktober)

Para pejabat keuangan dunia akan berkumpul di Bangkok, Thailand, dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia. Agenda ini berlangsung di tengah gejolak geopolitik, lonjakan biaya energi, kenaikan suku bunga, dan utang publik yang terus membengkak.

Mengusung tema Thailand's New Horizons: Empowering People, Building Resilience, pertemuan ini akan membahas prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, serta peran investasi swasta dalam pembangunan.

3. Inflasi China (Rabu, 14 Oktober)

China akan merilis data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) September 2026.

Pada Agustus, inflasi konsumen China mencapai 0,8% secara tahunan, naik dari 0,5% pada Juli. Sementara itu, inflasi produsen meningkat menjadi 3,8% dari 3,5%.

Data terbaru akan menjadi petunjuk mengenai kekuatan permintaan domestik dan tekanan biaya di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut. Bagi Indonesia, perkembangan ini penting karena China merupakan mitra dagang utama sekaligus pasar penting bagi ekspor komoditas nasional.

4. Neraca Perdagangan China (Rabu, 14 Oktober)

China juga akan mengumumkan data perdagangan September 2026. Pada Agustus, surplus perdagangan negara tersebut mencapai US$119,09 miliar.

Ekspor melonjak 25% secara tahunan menjadi US$401,44 miliar, sedangkan impor tumbuh 28,2% menjadi US$282,36 miliar.

Investor akan mencermati apakah lonjakan perdagangan berlanjut. Pertumbuhan impor China berpotensi menjadi angin segar bagi ekspor Indonesia, terutama jika permintaan terhadap komoditas kembali menguat.

5. Inflasi AS (Rabu, 14 Oktober)

Data inflasi AS September menjadi salah satu agenda paling dinanti pasar. Angka ini dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Pada Agustus, inflasi tahunan AS bertahan di 3,4%, sedangkan inflasi bulanan naik 0,4%, terutama didorong harga bensin.

Jika tekanan harga kembali meningkat, ruang pelonggaran moneter The Fed bisa semakin terbatas. Dampaknya dapat merembet ke pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, rupiah, dan pasar saham negara berkembang.

6. Pidato Pejabat The Fed (14-16 Oktober)

Pernyataan pejabat The Fed juga akan menjadi perhatian pasar. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle W. Bowman dijadwalkan menghadiri agenda di Bangkok pada 14 Oktober.

Sehari kemudian, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan berdiskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Anjlok 1% Lebih, Ini Penyebabnya


Most Popular
Features