Sesi I Dana Asing Kabur Rp205 M Kala IHSG Hijau, 5 Saham Ini Diborong
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau pada akhir sesi I perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Hingga tengah hari, indeks acuan Bursa Efek Indonesia tersebut berada di level 6.038,99, naik 2,10 poin atau 0,03%.
Sepanjang perdagangan sesi I hingga siang ini, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) di pasar saham Indonesia mencapai Rp205 miliar. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, nilai beli asing di seluruh pasar tercatat Rp1,41 triliun, sedangkan nilai jual mencapai Rp1,61 triliun.
Pada perdagangan hingga tengah hari ini investor asing melakukan akumulasi pada sejumlah saham. Antara lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi saham yang paling banyak diborong asing dengan net buy Rp27,90 miliar atau 6,85 juta saham. Posisi berikutnya ditempati PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dengan net buy Rp18,02 miliar dan volume 611,43 juta saham, lalu PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) Rp13,17 miliar, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) Rp11,63 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Rp9,54 miliar.
Sementara tekanan jual asing paling besar menimpa saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan net sell Rp74,18 miliar atau sekitar 24,14 juta saham. Di posisi kedua, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dilepas asing senilai Rp29,45 miliar dengan volume 167,34 juta saham, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp28,99 miliar dan PT Timah Tbk. (TINS) Rp23,55 miliar. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan net sell Rp17,60 miliar.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan lebih tenang sepanjang pekan ini, 5-9 Oktober 2026 setelah labil pada pekan lalu. Rupiah dan IHSG mampu bangkit dari tekanan akhir pekan lalu.
Kemampuan IHSG dan rupiah untuk melanjutkan penguatan akan diuji pada pekan ini.
Sepanjang pekan ini, pasar keuangan memang masih akan dibayangi perkembangan ketegangan Amerika Serikat dan Iran, situasi di Selat Hormuz, serta arah harga minyak setelah pertemuan OPEC dan negara produsen non-OPEC.
Pergerakan energi juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi suku bunga global. Pasar obligasi juga masih disorot setelah kenaikan imbal hasil di sejumlah negara meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.
Dari kalender ekonomi, perhatian investor akan tertuju pada aktivitas sektor jasa AS dan notulen FOMC untuk mencari petunjuk mengenai peluang kenaikan suku bunga berikutnya.
Inflasi produsen Zona Euro akan memberikan gambaran mengenai tekanan biaya perusahaan, sementara keyakinan konsumen Jepang menjadi indikator ketahanan permintaan domestik.
Di Indonesia, cadangan devisa, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel akan menjadi penggerak sentimen. Kalender China relatif sepi karena libur Golden Week berlangsung hingga pertengahan pekan. Rangkaian agenda tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, rupiah, imbal hasil obligasi, dan IHSG.