IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,30% ke Level 6.055
Jakarta,CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. IHSG berada di level 6.055,26, naik 18,27 poin atau 0,30%.
Sesaat setelah pasar buka IHSGÂ tercatat menguat lebih tajam dan melesat hingga 0,76%. Dalam tiga menit awal perdagangan tercatat indeks berada di level terendah 6.054 dan tertinggi di level 6.085
Kenaikan pada awal sesi ini, melanjutkan penguatan IHSGÂ yang dicatatkan akhir pekan lalu di mana indeks naik 0,46% atau menguat 27,38 poin ke level 6.036.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebanyak 3,98 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 621 miliar yang berpindah tangan sebanyak 109.705 kali.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan lebih tenang sepanjang pekan ini, 5-9 Oktober 2026 setelah labil pada pekan lalu. Rupiah dan IHSG mampu bangkit dari tekanan akhir pekan lalu.
Kemampuan IHSG dan rupiah untuk melanjutkan penguatan akan diuji pada pekan ini.
Sepanjang pekan ini, pasar keuangan memang masih akan dibayangi perkembangan ketegangan Amerika Serikat dan Iran, situasi di Selat Hormuz, serta arah harga minyak setelah pertemuan OPEC dan negara produsen non-OPEC.
Pergerakan energi juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi suku bunga global. Pasar obligasi juga masih disorot setelah kenaikan imbal hasil di sejumlah negara meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.
Dari kalender ekonomi, perhatian investor akan tertuju pada aktivitas sektor jasa AS dan notulen FOMC untuk mencari petunjuk mengenai peluang kenaikan suku bunga berikutnya.
Inflasi produsen Zona Euro akan memberikan gambaran mengenai tekanan biaya perusahaan, sementara keyakinan konsumen Jepang menjadi indikator ketahanan permintaan domestik.
Di Indonesia, cadangan devisa, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel akan menjadi penggerak sentimen. Kalender China relatif sepi karena libur Golden Week berlangsung hingga pertengahan pekan. Rangkaian agenda tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, rupiah, imbal hasil obligasi, dan IHSG.
Sementara itu, Bursa saham Asia-Pasifik mayoritas menguat pada perdagangan Senin (5/10/2026). Hal ini terjadi di tengah meredanya tekanan pasar seiring stabilitas harga minyak dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Indeks Nikkei 225 Jepang memimpin kenaikan. Nikkei 225 naik lebih dari 1,7%, sementara indeks Topix menguat 0,79% dan S&P/ASX 200 Australia bertambah 0,53%.