MARKET DATA

Breaking! Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
29 September 2026 10:02
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah semakin tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Dolar AS kini menembus level psikologis Rp18.000.

Merujuk data Refinitiv, pada pukul 09.55 WIB rupiah terdepresiasi 0,19% ke posisi Rp18.000/US$. Pelemahan rupiah membesar dibandingkan posisi pembukaan pagi tadi. Rupiah mengawali perdagangan dengan penurunan tipis 0,03% di level Rp17.970/US$.

Tekanan tersebut melanjutkan pergerakan pada Senin (28/9/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,48% ke posisi Rp17.965/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 101,209. DXY melanjutkan kenaikan sebesar 0,22% pada perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika dolar AS masih bergerak kuat di pasar global. Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan pentingnya sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dari sisi moneter, BI melakukan stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

BI kini mengurangi porsi intervensi melalui pasar spot karena transaksi tersebut dilakukan dengan menjual dolar secara langsung sehingga dapat mengurangi cadangan devisa. Porsi intervensi spot saat ini hanya sekitar 30% dari keseluruhan intervensi BI.

"Jumlahnya sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan. Intervensi ada di DNDF, NDF, dan spot," ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).

Sebelumnya, intervensi BI lebih banyak dilakukan melalui pasar spot. Namun, pengembangan pasar DNDF dan NDF membuat kedua instrumen tersebut kini dinilai lebih efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah tanpa terlalu membebani cadangan devisa.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Loyo, Dolar AS Kembali Dekati Rp18.000


Most Popular
Features