26 Saham Gocap Longsor, Bos BEI Buka Suara
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut saham-saham yang sebelumnya berada di level harga Rp50 tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan 28 September 2026. Hal ini seiring dengan perubahan batas bawah harga saham dari Rp50 menjadi Rp1.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan terdapat 26 saham yang masih berada di harga Rp50 dengan total bobot terhadap IHSG sebesar 1,91% per 25 September 2026.
"Saham tersebut mengalami penurunan antara 8% - 14% pada 28 Sep 2026 yang berkontribusi terhadap penurunan sekitar -0,27% atau -16,707 poin," ungkap Jeffrey tertulis kepada wartawan, Selasa, (29/9/2026).
Sebelumnya, Jeffrey mengatakan penerapan pertama penghapusan harga minimum Rp50 pada Senin (28/9/2026) berjalan dengan baik. Seluruh proses perdagangan mulai dari pre-opening, pembukaan pasar hingga perdagangan berlangsung dinilai berjalan lancar.
Terkait kekhawatiran perubahan kebijakan tersebut menjadi sentimen negatif bagi IHSG, Jeffrey menilai hal itu tidak sepenuhnya demikian. Menurutnya, saham-saham tersebut kini tengah mencari titik harga yang mencerminkan fair value setelah batas bawah Rp50 dihapuskan.
"saham-saham yang ada di harga Rp50 itu ada yang sudah bertahun-tahun di harga Rp50 tanpa ada transaksi. Artinya memang kesepakatan dari pelaku, dari investor yang mungkin memang fair value-nya tidak di Rp50, dan saat ini sedang mencari fair value-nya," kata dia.
Sebagai gambaran, CNBC Indonesia merangkum pergerakan 26 saham yang ditutup tepat di harga Rp50 pada Jumat (25/9/2026). Pada hari pertama aturan baru berlaku, seluruhnya melemah. Sebanyak 23 saham ditutup di level Rp43 atau mengalami Auto Reject Bawah (ARB) sebesar 14%, dua saham berakhir di Rp44, dan satu saham di Rp46
(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]