MARKET DATA
Internasional

Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun

sef,  CNBC Indonesia
25 September 2026 08:40
FILE PHOTO: U.S. dollar banknotes are seen in this illustration taken March 10, 2023. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi jual di pasar obligasi global kembali berlanjut. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi, tingginya harga energi, serta peningkatan belanja pemerintah.

Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 30 tahun naik hingga 5,48% pada Kamis, level tertinggi sejak 2004. Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun mencapai 5,20%.

Kenaikan yield tersebut menunjukkan harga obligasi yang semakin tertekan. Pasar obligasi global sendiri telah mengalami tekanan selama berbulan-bulan.

Kondisi tersebut terjadi ketika investor menghadapi kombinasi sejumlah faktor, mulai dari tingginya biaya energi, pertumbuhan ekonomi AS yang masih kuat, hingga kekhawatiran mengenai peningkatan belanja pemerintah. Perang Iran juga menjadi salah satu faktor yang mendorong harga energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Yield 10 Tahun Jadi Sorotan

Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah yield Treasury AS tenor 10 tahun menembus level 5% pada bulan ini. Level tersebut tergolong tinggi dan jarang dicapai dalam beberapa dekade terakhir.

Kini, pasar mulai memperhatikan level 6% sebagai "ambang berikutnya" yang dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan dan perusahaan AS. Kenaikan imbal hasil juga mulai terasa pada sektor rumah tangga.

Suku bunga hipotek AS tenor 30 tahun kini berada di sekitar 7%, sekitar satu poin persentase lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, dan berada di kisaran tertinggi dalam dua tahun terakhir. Suku bunga hipotek adalah bunga yang dikenakan atas pinjaman untuk membeli rumah atau properti, yang biasanya dijamin dengan properti tersebut.

Sebenarnya, sejak pertemuan kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed/Fed) pada Juni, yield Treasury 10 tahun telah meningkat sekitar 0,70 poin persentase. Jika dihitung sejak awal Maret, kenaikannya mencapai sekitar 1,25 poin persentase.

"Sebagian besar kenaikan imbal hasil sejak Maret didorong oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, sementara sisanya didorong oleh kombinasi antara ekspektasi pertumbuhan yang meningkat dan harga minyak yang lebih tinggi," ujar kepala strategi suku bunga AS di TD Securities, Gennadiy Goldberg, dalam catatan risetnya, sebagaimana dimuat Reuters, Jumat (25/9/2026).

Data aktivitas bisnis terbaru yang menunjukkan perekonomian AS masih tumbuh kuat, bersamaan dengan meningkatnya tekanan inflasi, turut meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Ekonomi AS Masih Tangguh

Berbeda dengan obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, yield Treasury tenor 30 tahun mencerminkan tingkat imbal hasil yang diminta investor untuk memberikan pembiayaan kepada pemerintah AS dalam jangka panjang.

"Kita melihat adanya penyesuaian harga (repricing) pada beberapa hal-pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh, dan itu menjadi alasan yang lebih positif mengapa kita berada dalam lingkungan suku bunga bebas risiko yang lebih tinggi," kata Kepala strategi investment grade dan makro di CreditSights, Zachary Griffiths.

Sejauh ini, pasar saham AS masih mampu menyerap kenaikan yield. Pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, kenaikan laba perusahaan, serta besarnya investasi terkait ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih menjadi penopang sentimen investor.

Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi bahkan sempat mencetak rekor tertinggi pada Selasa. Namun, tingginya yield obligasi dapat meningkatkan biaya pendanaan bagi pemerintah, perusahaan, maupun rumah tangga.

Yield Obligasi Dunia Ikut Naik

Tekanan tidak hanya terjadi di AS. Sejumlah negara ekonomi besar juga menghadapi kenaikan biaya pembiayaan di tengah kebutuhan belanja pemerintah yang semakin besar.

Di Jerman, otoritas keuangan memperkirakan pinjaman pemerintah federal mencapai rekor €525,5 miliar atau sekitar US$598 miliar pada 2026. Kebutuhan tersebut terutama didorong oleh pembiayaan kembali utang dan meningkatnya kebutuhan pendanaan.

Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun bahkan sempat menembus 3,6% bulan ini, level tertinggi dalam 17 tahun. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada Kamis juga mencapai level tertinggi sejak 1996.

Sementara itu, pertumbuhan nominal ekonomi AS berada di kisaran 8% pada kuartal II-2026, menunjukkan perekonomian masih cukup kuat meski biaya pinjaman meningkat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan disebut telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam kenaikan biaya pinjaman. Namun, upaya tersebut belum mampu menghentikan kenaikan yield obligasi jangka panjang.

"Obligasi pemerintah AS bersaing dengan instrumen pasar lainnya untuk mendapatkan pembeli, jadi pertanyaannya adalah, seberapa tinggi lagi imbal hasilnya bisa naik?" ujar ahli strategi pasar global SMBC EMEA, Hank Calenti.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams pada Kamis mengatakan ekonomi AS menunjukkan "ketahanan yang luar biasa". Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat investor terus menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga dan inflasi AS, sementara pasar obligasi global menghadapi tekanan yang semakin besar.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Siaga Krisis? Obligasi Dunia Rontok, Yield AS-Jepang-Inggris Rekor


Most Popular
Features