MARKET DATA

IHSG Parkir di Zona Merah, Merosot 1,2% ke Level 6.298

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
24 September 2026 16:10
Ilustrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: Ilustrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 24 September 2026, di zona merah. Indeks ditutup di level 6.298,61, turun 76,31 poin atau 1,20% dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.374,91.

IHSG dibuka melemah di 6.364,98, sekitar 10 poin di bawah penutupan sebelumnya. Level tertinggi hari ini di 6.368,57 tercapai di awal perdagangan, sedangkan level terendah di 6.287,46.

Sepanjang perdagangan hari ini, hanya sebanyak 198 saham menguat, 487 saham melemah, dan 278 saham tak bergerak.


Berdasarkan grafik intraday, indeks turun cepat beberapa menit setelah pembukaan. IHSG sempat rebound ke kisaran 6.340 hingga 6.350 pada pagi hari, tetapi gagal menembus level tinggi sebelumnya. Tekanan jual menguat menjelang tengah hari dan berlanjut ke sesi kedua, sehingga indeks mencetak level terendah harian.

Setelah itu IHSG bergerak menyamping di kisaran 6.290 hingga 6.310 hingga sore hari, dan menguat tipis di menit-menit akhir hingga bertahan di atas 6.300 sebelum ditutup sedikit di bawah level itu. Pola ini menunjukkan tekanan jual cukup dominan sejak pagi, sementara pembeli baru muncul terbatas setelah indeks menyentuh area terendah.

Mengutip data Stockbit, sepanjang perdagangan hari ini tercatat sekitar 25,3 miliar saham atau 253 juta lot, dengan nilai transaksi sekitar Rp9,69 triliun. Volume itu sekitar 145% dari rata-rata volume harian sebesar 17,44 miliar saham, atau lebih tinggi sekitar 7,9 miliar saham.

Memasuki perdagangan Kamis (24/9/2026), pasar keuangan Tanah Air masih akan mencermati respons pasar setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya.

Selain itu, perhatian juga tertuju pada aturan baru perdagangan saham dan rilis data uang beredar. Sementara dari luar negeri, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) akan menjadi perhatian. Lonjakan imbal hasil US Treasury serta indeks dolar juga bisa menjadi "badai" baru bagi IHSG.

Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

"Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%," kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Keputusan tersebut sesuai dengan hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga. Sebanyak delapan responden memperkirakan BI Rate tetap sebesar 5,75%, sementara tiga lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.

Dengan keputusan tersebut, BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026. BI Rate bertahan di level 5,75% setelah sebelumnya dinaikkan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni.

BI menaikkan suku bunga dari 4,75% menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026. BI Rate kemudian kembali dinaikkan menjadi 5,50% pada 9 Juni dan mencapai 5,75% pada 18 Juni 2026.

Sementara itu dari global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun melonjak pada perdagangan Rabu (23/9/2026), menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade. Lonjakan terjadi setelah data ekonomi menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Yield Treasury 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, level tertinggi sejak 2007. Yield bahkan sempat menyentuh 5,14% dalam perdagangan.

Kenaikan yield Treasury 10 tahun penting karena menjadi acuan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi. Ketika yield naik, biaya kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan bisnis ikut terdorong lebih tinggi.

Lonjakan yield terjadi setelah data S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021. Di saat yang sama, biaya input melonjak akibat kenaikan harga energi.

Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, terutama karena perekonomian AS masih menunjukkan kekuatan.

Yield Treasury 30 tahun melonjak 11 basis poin menjadi 5,4%, level tertinggi tahun ini. Angka tersebut merupakan level intraday tertinggi sejak 2007 dan level penutupan tertinggi sejak 2004.

Adapun yield Treasury 2 tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik sekitar 16 basis poin hingga mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024.

Yield Treasury 5 tahun juga menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah lelang obligasi rutin pada Rabu.

Kenaikan imbal hasil ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena bisa memicu kenaikan imbal hasil SBN dan beban utang pemerintah.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Sesi I Dibuka Melemah 0,16% ke Level 6.364


Most Popular
Features