IHSG Anjlok Lebih dari 1%, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Hingga sesi pertama menjelang siang, indeks berada di level 6.308,39, turun 66,53 poin atau 1,04% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di 6.374,91.
Jika dilihat dari grafik intraday, IHSG dibuka melemah tipis di 6.364,98 dan sempat menyentuh level tertinggi hari ini di 6.368,57 pada awal perdagangan. Setelah itu indeks bergerak turun bertahap. Sempat ada pantulan sesaat di kisaran 6.340 sebelum tekanan jual kembali menguat.
Pergerakan indeks kemudian bertahan di area terendah sekitar 6.306,63, sehingga rentang gerak IHSG sepanjang pagi mencapai sekitar 62 poin.
Mengutip data Stockbit, dari sisi aktivitas, volume perdagangan tercatat sekitar 15,51 miliar saham atau 155,13 juta lot. Angka ini masih di bawah rata-rata volume harian sebesar 17,44 miliar saham, tetapi perlu diingat bahwa perdagangan belum berakhir. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp5 triliun.
Sementara mengutip data Refinitiv, pelemahan IHSG siang ini berasal dari sektor material dasar yang tuurn 1,6%, disusul oleh sektor real estate yang melemah 1,2% dan sektor utilities yang -1,1%.
Adapun saham-saham pemberat IHSG antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), dan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).
Sedangkan saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, Fortune Indonesia Tbk. (FORU), PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT. Yulie Sekuritas Indonesia Tbk. (YULE), PT. Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT. Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG).
Memasuki perdagangan Kamis (24/9/2026), pasar keuangan Tanah Air masih akan mencermati respons pasar setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada aturan baru perdagangan saham dan rilis data uang beredar. Sementara dari luar negeri, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) akan menjadi perhatian. Lonjakan imbal hasil US Treasury serta indeks dolar juga bisa menjadi "badai" baru bagi IHSG.
Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.
"Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%," kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).
Keputusan tersebut sesuai dengan hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga. Sebanyak delapan responden memperkirakan BI Rate tetap sebesar 5,75%, sementara tiga lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.
Dengan keputusan tersebut, BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026. BI Rate bertahan di level 5,75% setelah sebelumnya dinaikkan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni.
BI menaikkan suku bunga dari 4,75% menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026. BI Rate kemudian kembali dinaikkan menjadi 5,50% pada 9 Juni dan mencapai 5,75% pada 18 Juni 2026.
Sementara itu dari global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun melonjak pada perdagangan Rabu (23/9/2026), menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade. Lonjakan terjadi setelah data ekonomi menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Yield Treasury 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, level tertinggi sejak 2007. Yield bahkan sempat menyentuh 5,14% dalam perdagangan.
Kenaikan yield Treasury 10 tahun penting karena menjadi acuan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi. Ketika yield naik, biaya kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan bisnis ikut terdorong lebih tinggi.
Lonjakan yield terjadi setelah data S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021. Di saat yang sama, biaya input melonjak akibat kenaikan harga energi.
Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, terutama karena perekonomian AS masih menunjukkan kekuatan.
Yield Treasury 30 tahun melonjak 11 basis poin menjadi 5,4%, level tertinggi tahun ini. Angka tersebut merupakan level intraday tertinggi sejak 2007 dan level penutupan tertinggi sejak 2004.
Adapun yield Treasury 2 tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik sekitar 16 basis poin hingga mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024.
Yield Treasury 5 tahun juga menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah lelang obligasi rutin pada Rabu.
Kenaikan imbal hasil ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena bisa memicu kenaikan imbal hasil SBN dan beban utang pemerintah.