MARKET DATA

Cara DBS Menilai Risiko Aset ICE di Tengah Transisi EV

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
16 September 2026 13:55
Sejumlah pekerja menyeselaikan perakitan mobil BMW di pabrik pembuatan mobil PT Gaya Motor, Sunter, Jakarta Utara, Selasa (6/6/2023). Pabrik ini merakit komponen mobil BMW yang sudah berbentuk incompletely knocked down. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Sejumlah pekerja menyeselaikan perakitan mobil BMW di pabrik pembuatan mobil PT Gaya Motor, Sunter, Jakarta Utara, Selasa (6/6/2023). Pabrik ini merakit komponen mobil BMW yang sudah berbentuk incompletely knocked down. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank DBS Indonesia menjelaskan pendekatan yang digunakan perseroan dalam menilai risiko pembiayaan terhadap perusahaan otomotif yang masih memiliki investasi besar di teknologi mesin pembakaran dalam (ICE), di tengah pergeseran industri menuju kendaraan listrik (EV).

Executive Director, Head of Large Corporates & ESG Lead Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Ello Hanson, mengatakan DBS memiliki pemetaan (mapping) komponen kendaraan berdasarkan penggunaannya, baik yang eksklusif untuk ICE, eksklusif untuk EV, maupun komponen yang dipakai pada kedua jenis drivetrain tersebut.

"Fokus kita adalah semua yang dipakai di ICE dan yang dipakai di EV, misalnya komponen ban mobil, komponen kelistrikannya, AC, audio, braking, itu adalah komponen-komponen yang memang akan terus dipakai, mau mobilnya ICE, mau mobilnya EV," jelas Ello.

Ello menegaskan, perusahaan yang hanya terkonsentrasi pada segmen ICE tidak serta-merta dianggap tidak memiliki prospek, meski DBS akan menerapkan kehati-hatian ekstra dalam pembiayaan terhadap segmen tersebut. Menurutnya, pasar ICE masih besar dan diperkirakan akan terus ada dalam waktu lama seiring pola konsumsi massal yang belum sepenuhnya beralih ke EV.

"Kita ini dalam mass consumptions. ICE dan EV itu akan terus coexist together masih lama," ujarnya. Ia menambahkan, ke depan pasar ICE berpotensi mengalami konsolidasi, di mana pemain-pemain yang kuat akan bertahan.

Alih-alih hanya membatasi pembiayaan, DBS disebut turut mendorong perusahaan yang masih terfokus pada ICE untuk mulai beradaptasi, dengan memanfaatkan hasil pemetaan komponen dan strategi resetter type yang dimiliki perseroan sebagai basis penentuan arah pembiayaan ke depan.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Emiten Bakrie Bidik Pendanaan Rp2 Triliun dari Danantara


Most Popular
Features