MARKET DATA

Rupiah Berakhir di Zona Merah, Dolar AS Ditutup Naik ke Rp17.710

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
31 August 2026 15:12
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pertama pekan ini dengan terkoreksi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, tekanan terhadap mata uang Garuda berkurang menjelang penutupan.

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Senin (31/8/2026), rupiah harus mengalami depresiasi sebesar 0,14% ke posisi Rp17.710/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp17.755/US$. Mata uang Garuda kemudian memangkas tekanan sebesar 45 poin, tetapi masih ditutup 25 poin lebih lemah dibandingkan posisi Jumat (28/8/2026) di Rp17.685/US$.

Rupiah juga ditutup lebih kuat dibandingkan posisi pembukaan awal perdagangan pagi tadi di Rp17.725/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,16% ke posisi 99,550.

DXY berbalik melemah setelah melonjak 0,55% pada perdagangan Jumat pekan lalu.

Pelemahan rupiah hari ini masih dipengaruhi lonjakan dolar AS pada Jumat lalu. Penguatan greenback terjadi setelah perdagangan rupiah sudah tutup sehingga dampaknya baru terasa pada awal pekan ini.

Dolar AS melesat setelah Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak bergerak kembali menuju target 2%.

Dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole, Warsh mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila tekanan inflasi tidak kunjung mereda. Pernyataan tersebut menjadi sinyal terkuat darinya bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk mengendalikan harga.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan September langsung melonjak menjadi 57,5%, dari sekitar 35% sebelum Warsh berpidato, berdasarkan CME FedWatch.

Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan berpotensi menahan aliran dana menuju negara berkembang. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap rupiah.

Dolar AS juga menguat hampir 0,9% sepanjang pekan lalu dan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan. DXY bahkan sempat menyentuh 99,727, posisi tertinggi sejak 17 Agustus 2026.

Koreksi DXY pada perdagangan hari ini membantu rupiah bangkit dari posisi terlemahnya hari ini di Rp17.755/US$. Namun, pelemahan dolar belum cukup membawa rupiah kembali ke zona hijau.

Selain itu, akan ada Rapat Paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026) yang akan membahas penetapan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI periode 2026-2031.

Selain Destry, Aida S. Budiman akan ditetapkan sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI, sedangkan Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI.

Kepastian susunan pimpinan baru BI menjadi perhatian karena berkaitan dengan kesinambungan kebijakan moneter dan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp17.840


Most Popular
Features