Pasar Tunggu Sanksi AS ke Iran, Harga Minyak Turun ke US$92,34
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia dibuka melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026) setelah reli tajam sepanjang pekan lalu. Pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan sembari menanti pengumuman paket sanksi baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang dinilai dapat kembali mengubah arah pasokan minyak global.
Merujuk data Refinitiv hingga pukul 08.50 WIB, harga minyak Brent berada di US$92,34 per barel, turun 2,17% dibandingkan penutupan Jumat (21/8/2026)Â di level US$94,39 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi menjadi US$85,10 per barel dari US$87,06 per barel pada perdagangan sebelumnya atau turun 2,25%.
Meski terkoreksi pada awal pekan, tren kenaikan harga minyak masih terlihat dalam beberapa sesi terakhir. Brent masih menguat sekitar 6,5% dibandingkan posisi 14 Agustus yang berada di US88,52perbarel. WTI pun masih naik lebih dari 3%dalam periode yang sama setelah sempat menyentuh US$82,40 per barel. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya premi risiko akibat memanasnya konflik di Timur Tengah dan terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Tekanan jual pada Senin muncul karena investor menunggu langkah terbaru Washington terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan mengumumkan paket sanksi baru terhadap Iran pada Senin waktu setempat. Pemerintah AS menyebut kebijakan tersebut sebagai ofensif finansial terbesar yang pernah diterapkan terhadap Iran dan akan menyasar mitra dagang negara tersebut.
Ketidakpastian meningkat setelah Iran merespons dengan ancaman menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia apabila tekanan ekonomi dari AS terus berlanjut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaei bahkan menyatakan tidak akan ada setetes pun minyak yang diekspor melalui Selat Hormuz maupun kawasan Teluk jika perang ekonomi terus berlangsung.
Ancaman tersebut menjadi perhatian besar bagi pasar energi karena Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia. Sebelum konflik meningkat, sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi perairan tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker selama beberapa pekan terakhir telah mengurangi arus ekspor dan memperketat pasokan di pasar internasional.
Di sisi lain, pasar masih menunggu efektivitas kebijakan AS. Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, menilai belum ada kepastian apakah isolasi ekonomi terhadap Iran mampu mengurangi ekspor minyak negara tersebut secara signifikan. Namun, apabila kebijakan itu berhasil, risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah akan semakin besar dan berpotensi kembali mendorong lonjakan harga energi.
Perkembangan terbaru menunjukkan Iran masih membuka jalur bagi sejumlah kapal tanker yang mengangkut minyak Irak untuk melintasi Selat Hormuz setelah menerima permintaan dari Baghdad. Langkah ini memberi sinyal bahwa arus pasokan belum sepenuhnya terhenti. Meski demikian, pasar tetap bersikap waspada karena pengumuman sanksi AS dan respons lanjutan Iran berpotensi menjadi penentu arah harga minyak pada perdagangan pekan ini.
CNBC Indonesia
(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]