MARKET DATA

RI Tengah "Haus" Dana Asing

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
24 August 2026 07:35
Sengit! Dunia Rebutan Dolar, Ini Buktinya
Foto: Infografis/ Sengit! Dunia Rebutan Dolar, Ini Buktinya/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia tengah mengalami tekanan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), yang menjadi pertanda besarnya kebutuhan dana asing di dalam negeri pada tahun ini.

Transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% produk domestik bruto (PDB). Melebar dibanding catatan pada kuartal I-2026 yang sebesar US$ 3,6 miliar atau 1% PDB.

Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, tekanan yang dialami transaksi berjalan Indonesia ini menandakan, semakin besarnya kebutuhan pembiayaan Indonesia dari luar negeri.

"Jadi persoalannya saat ini bukan kekurangan buffer, melainkan kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia yang menjadi lebih besar," kata Irman Faiz, dikutip Senin (24/8/2026).

Dari sisi stabilitas eksternal, sebetulnya menurut Irman Faiz masih terbilang terjaga, terlihat dari posisi cadangan devisa pada akhir Juni yang masih cukup kuat, US$145,6 miliar, setara sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial berbalik mencatat surplus sekitar US$ 12,0 miliar, ditopang oleh investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) dan portfolio inflows yang masih terjaga.

Masalahnya, defisit migas yang meningkat akibat harga minyak yang tinggi, surplus nonmigas yang mengecil seiring kenaikan impor, serta pembayaran pendapatan primer yang lebih besar yang membuat tekanan pada CAD.

Ketika CAD semakin lebar, ia mengatakan, akan semakin besar pula kebutuhan permintaan struktural terhadap mata uang asing, yang harus dibiayai oleh FDI maupun portfolio inflows.

Maka, risiko terhadap kurs rupiah menjadi kian muncul. Selama financial account mampu menghasilkan inflow yang cukup besar seperti pada kuartal II-2026, menurut Irman Faiz, tekanan terhadap rupiah masih dapat diredam.

"Tetapi kalau CAD tetap lebar sementara portfolio inflows melemah akibat penguatan dolar, kenaikan US Treasury yield, atau risk-off global, maka keseimbangan valas domestik akan kembali mengetat dan rupiah menjadi lebih sensitif terhadap shock eksternal," ucapnya.

Irman Faiz melihat sebagian pelebaran CAD pada kuartal II-2026 bersifat cyclical, tetapi ia menegaskan ada komponen yang lebih struktural yang perlu diperhatikan.

Harga minyak yang tinggi memperbesar kebutuhan impor energi, sementara kebutuhan impor barang modal dan proyek investasi juga meningkat.

Terkait upaya pemerintah dalam mengurangi kebutuhan impor energi melalui implementasi B50 ia akui memang dapat mengurangi impor diesel, tetapi pada saat bersamaan penggunaan CPO domestik yang lebih besar berpotensi mengurangi kapasitas ekspor.

"Karena itu, kami masih memperkirakan CAD sepanjang 2026 berada di sekitar 1,5% PDB, lebih lebar dibandingkan tahun sebelumnya," tegas Irman Faiz.

Ketika CAD melebar, yang menandakan Indonesia makin haus dana asing, maka implikasinya, ruang penguatan rupiah menurut Irman Faiz tetap terbatas dan volatilitas akan relatif masih ada.

Level Rp18.000 per dolar AS ia anggap masih sangat mungkin kembali diuji, terutama apabila tekanan global kembali meningkat atau inflow asing tidak cukup besar untuk menutup kebutuhan pembiayaan eksternal.

"Baseline kami masih melihat USD/IDR akhir tahun di kisaran Rp17.900-18.150, sehingga Rp18.000 bukan merupakan tail-risk scenario, tetapi masih berada dalam range fundamental kami," tuturnya.

Cara pandangan serupa sebelumnya telah disampaikan Kepala Riset Makroekonomi dan Market Permata Bank Faisal Rachman. Ia menganggap tekanan CAD sepanjang tahun ini memang akan membesar.

Termasuk akibat impor yang lebih tinggi di bawah agenda pemerintah yang pro-pertumbuhan serta pelemahan ekspor di tengah lesunya permintaan global dan ketegangan geopolitik serta perdagangan yang berlanjut.

"Pembengkakan CAD berpotensi menekan neraca pembayaran Indonesia, terutama karena arus modal masuk transaksi finansial masih berada dalam tekanan di tengah tingginya ketidakpastian global yang memicu sikap kecenderungan menghindari risiko," tuturnya.

Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi ia perkirakan akan menjaga permintaan domestik dan mendorong pertumbuhan impor yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, melemahnya permintaan global-khususnya dari Tiongkok-serta ketegangan geopolitik yang berlanjut di Timur Tengah dan perang dagang global dapat menekan kinerja ekspor.

Perkembangan ini juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan makin membatasi pertumbuhan ekspor.

"Oleh karena itu, kami memproyeksikan CAD akan membengkak menjadi 2,5-3,0% dari PDB pada tahun 2026, dari 0,11% dari PDB pada tahun 2025," ungkap Faisal.

Faisal bahkan menganggap, kemampuan Indonesia untuk memperoleh kondisi transaksi finansial seperti kuartal II-2026 yang surplus ke depannya cenderung akan lebih menghadapi tantangan.

Arus modal portofolio ia perkirakan tetap rentan terhadap ketidakpastian global maupun domestik, meskipun terdapat sedikit perbaikan pada sentimen investor menyusul keputusan MSCI untuk mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai emerging market serta keputusan S&P yang mempertahankan prospek stabil.

Secara global, ketidakpastian seputar perkembangan geopolitik di Timur Tengah menurut Faisal juga akan terus membayangi arah kebijakan The Fed, mengingat tingginya harga energi dapat menahan inflasi AS di atas target 2% dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini dapat memperkuat sentimen risk-off dan membatasi arus modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, menurut Faisal kekhawatiran terhadap defisit ganda (twin deficits) Indonesia juga meningkat, mencerminkan risiko pelebaran CAD dan defisit fiskal yang lebih besar di bawah kerangka kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan serta ketergantungan yang makin tinggi pada kebijakan fiskal sebagai mesin utama pertumbuhan dan penahan gejolak ekonomi (shock absorber).

Di tengah kondisi ini, sentimen investor Faisal anggap akan tetap berhati-hati. Oleh karena itu, arus masuk investasi portofolio diproyeksikan tetap terbatas, sementara nilai tukar Rupiah berpotensi tetap fluktuatif dan Bank Indonesia diperkirakan akan terus memanfaatkan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas mata uang dalam jangka pendek hingga menengah.

"Secara keseluruhan, kami memproyeksikan cadangan devisa akan menurun ke kisaran US$ 143-147 miliar pada akhir tahun 2026, dari US$ 156,47 miliar pada akhir tahun 2025. Kami juga mempertahankan proyeksi nilai tukar Rupiah pada akhir tahun 2026 berada dalam kisaran Rp17.800-Rp18.000 per Dolar AS," tuturnya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ekonom: 30% Tekanan Rupiah Bersumber dari Luar Negeri


Most Popular
Features