MARKET DATA

RI Punya Harta Karun di Bawah Bantal, Bisa Saingi China!

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
22 August 2026 13:40
Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder
Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emas sebagai aset instrumen lindung nilai menjadi primadona masyarakat untuk mengamankan sebagian hartanya. Namun, ternyata ribuan ton emas masih bersemayam di bawah bantal alias belum masuk ke sistem keuangan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, sebagian masyarakat masih belum percaya pada lbaga penympanan untuk mengamankan emas mereka. Padahal, emas yang belum masuk ke sistem keuangan jumlahmya cukup besar, yaitu mencapai sekitar 1.800 ton.

Sebanyak 1.800 ton emas itu menurut Airlangga memiliki nilai sebesar US$ 252 miliar, atau bila dikonversi ke nilai tukar rupiah setara Rp 4.483,02 triliun (kurs Rp17.790/US$).

"Emas yang ada di bawah bantal, itu ada 1.800 ton. Nah, kalau 1.800 ton, itu nilainya juga luar biasa, US$ 252 miliar," kata Airlangga dalam acara Peluncuran Indonesia Bullion Market Association di Monas Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta, dikutip Sabtu (21/8/2026).

Airlangga mengatakan, bila 1.800 ton emas yang masih bersemayam di bawah bantal itu bisa masuk ke sistem keuangan RI dengan nilai US$ 252 miliar, akan membuat catatan stok emas Indonesia menjadi bagian dari yang terbesar di dunia.

"Nah ini sebuah pertumbuhan yang luar biasa kalau itu bisa kita lakukan. Karena kalau kita lihat Amerika punya stok emas 8.133 ton, kemudian China 2.331. Kalau Indonesia 1.800, itu udah langsung di bawah mereka semua," ucap Airlangga.

Oleh sebab itu, Airlangga meminta dua lembaga jasa keuangan yang telah memiliki layanan bullion, yakni Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Pegadaian, untuk mencari cara membuat masyarakat percaya menitipkan aset emasnya.

PT Pegadaian sendiri kata Airlangga kini telah mengelola 153 ton stok emas masyarakat, dan BSI sekitar 20 ton.

"Jadi bagaimana tugasnya dari Pegadaian maupun BSI yang US$ 252 billion ini mungkin 20% nya saja pindah dari ditaruh di bawah bantal, ditaruh ke instrumen keuangan ataupun instrumen perbankan syariah maupun Pegadaian," tutur Airlangga.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 1.800 Ton Emas Warga RI di Bawah Bantal, Nilainya Rp 4.483 Triliun


Most Popular
Features