Ditawari Rp 471 Miliar, Ibu-Anak Petani Malah Usir Raksasa AI
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah tawaran fantastis datang dari perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI) kepada dua petani perempuan di Kentucky, Amerika Serikat. Nilainya mencapai US$26,48 juta atau setara Rp471,34 miliar (kurs Rp17.800/US$) untuk membeli lahan pertanian keluarga. Namun tawaran sebesar itu justru ditolak mentah-mentah.
Adalah Delsia Bare (54) dan ibunya, Ida Huddleston (83), pemilik lahan yang menjadi incaran perusahaan AI raksasa yang belakangan diduga kuat adalah Meta. Dari lahan milik Bare, perusahaan menawar 463 acre (sekitar 187 hektare) dengan harga US$48.000 atau sekitar Rp854,4 juta per acre. Sementara dari lahan Huddleston, ditawar 71 acre seharga US$60.000 atau sekitar Rp1,07 miliar per acre.
Awalnya keduanya sempat menandatangani kesepakatan. Namun setelah mengetahui lahan mereka akan disulap menjadi pusat data (data center) raksasa berkapasitas 2,2 gigawatt, sikap mereka berubah drastis. Bare bahkan sampai membatalkan kontrak yang sudah diteken dan mengusir perwakilan perusahaan tersebut.
"Enyahlah dan jangan pernah kembali," kata Bare kepada perwakilan perusahaan, seperti dikutip dari laporan The Wall Street Journal, Minggu (17/8/2026).
Bagi Bare, lahan itu bukan sekadar aset finansial. Tanah tersebut telah digarap keluarganya selama hampir 200 tahun, sejak dibeli pertama kali pada 1848, dan pernah menjadi sumber pangan keluarga di masa Depresi Besar AS. Ia menyebut keyakinan agamanya sebagai alasan utama menolak tawaran tersebut, sekaligus menyatakan skeptis terhadap masa depan teknologi AI.
"Saya percaya kecerdasan buatan akan menjadi kehancuran umat manusia," ujar Bare.
Penolakan ini memicu keretakan sosial di Maysville, kota kecil berpenduduk sekitar 8.700 jiwa itu. Warga terbelah antara yang mendukung dan menolak proyek data center. Menurut Direktur Pengembangan Ekonomi setempat, Tyler McHugh, sekitar 20% warga menolak keras, 20% mendukung penuh, dan 60% sisanya hanya ingin polemik ini segera selesai.
Di sisi lain, perusahaan sempat menjanjikan sejumlah kompensasi ke daerah tersebut, termasuk total kesepakatan lahan senilai US$110 juta atau sekitar Rp1,958 triliun kepada warga yang bersedia menjual, dana Rp267 miliar (US$15 juta) untuk layanan darurat, hingga Rp1,42 triliun (US$80 juta) untuk perbaikan infrastruktur air. Proyek ini juga diklaim bakal membuka 400 lapangan kerja tetap.
Meski tergiur banyak warga lain yang akhirnya menjual tanahnya, Bare dan Huddleston tetap kukuh pada pendiriannya. Bare bahkan menggugat proyek tersebut ke jalur hukum, hingga harus berhadapan dengan tetangganya sendiri di pengadilan akibat aturan hukum setempat yang mewajibkan gugatan diarahkan ke pihak yang menyetujui perubahan zonasi.
"Bahkan kalau saya punya Rp471 miliar sekalipun, saya tetap ingin duduk di kursi ini, minum kopi, dan makan di rumah saya seperti biasa," kata Huddleston, menegaskan bahwa bagi mereka, kenyamanan dan warisan keluarga jauh lebih berharga ketimbang kekayaan instan dari raksasa teknologi AI.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]