MARKET DATA

Bupati Terkaya di Jawa Hidup Serba Mewah, Rakyatnya Melarat

M. Fakhriansyah & Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
16 August 2026 13:15
Pendopo kantor Bupati Cianjur. (Dok.detikcom)
Foto: Pendopo kantor Bupati Cianjur. (Dok.detikcom)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketimpangan kesejahteraan antara penguasa dan masyarakat bukan fenomena baru dalam sejarah Indonesia. Sejak era kolonial, terdapat kelompok elite lokal yang mampu mengakumulasi kekayaan di tengah kondisi rakyat yang masih berada dalam tekanan ekonomi.

Cianjur, Jawa Barat, menjadi salah satu contoh. Memasuki awal abad ke-19, wilayah ini berkembang sebagai salah satu daerah terkaya di Pulau Jawa seiring meningkatnya produksi komoditas perkebunan, khususnya kopi.

Cianjur bahkan dikenal sebagai salah satu pusat produksi kopi utama di kawasan Priangan. Besarnya nilai ekonomi komoditas tersebut ikut mendorong naiknya kekayaan serta kedudukan sosial elite setempat, termasuk para bupati yang memegang kekuasaan di wilayah tersebut.

Dengan demikian, kemakmuran dari industri kopi pada masa itu tidak hanya mengubah perekonomian Cianjur, tetapi juga memperkuat posisi sosial dan ekonomi kalangan penguasanya.

Sejarawan Belanda Jan Breman dalam bukunya Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Perdagangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 (2014) mencatat, pada masa tanam paksa (1830-1870), Cianjur menjadi penghasil kopi terbesar di wilayah Priangan. Pada 1806, produksinya bahkan mencapai sekitar 1,5 juta kopi.

Kekayaan ini kemudian mengangkat posisi elite lokal, termasuk bupati. Menurut sejarawan Nina Herlina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan, 1800-1942 (1998), para bupati merupakan kelompok paling kaya di wilayahnya. Mereka memperoleh pemasukan dari gaji, pajak, hingga praktik feodalisme yang tidak tertulis.

Namun, kemakmuran itu tidak dirasakan oleh rakyat. Rakyat justru menanggung beban berat dari sistem tanam paksa kopi. Kerja keras para petani menjadi fondasi kekayaan daerah, tetapi hasilnya lebih banyak mengalir ke kas kolonial dan dinikmati oleh elite lokal, termasuk bupati.

Terlebih, Bupati Cianjur justru dikenal dengan gaya hidup mewah. Jan Breman mencatat, sang bupati kerap berkeliling menggunakan kereta berlapis emas, layaknya bangsawan besar.

"Layaknya tuan besar konsumtif, mereka berbelanja barang mewah dengan harga tinggi. Di saat pulangnya mereka membawa candu, tembakau, dan katun, barang-barang yang akan dijual kepada kepala bawahannya," tulis Breman.

Kemewahan ini bahkan berdampak langsung ke daerah lain. Pegawai kolonial asal Belanda, Multatuli, dalam novelnya Max Havelaar (1860), menyoroti bagaimana kunjungan Bupati Cianjur ke Lebak justru membebani wilayah yang disinggahi.

Menurutnya, bupati datang dengan rombongan besar yang harus ditanggung oleh daerah setempat.

"Ratusan orang itu yang semuanya harus ditampung dan diberi makan, begitu juga kuda-kudanya," tulis Multatuli.

Menurut Nina Herlina Lubis, kondisi ini tidak lepas dari cara pandang kekuasaan saat itu. Kabupaten diposisikan sebagai panggung, dengan bupati sebagai aktor utama yang harus menampilkan kemegahan.

"Kabupaten adalah ibarat panggung pertunjukan dengan bupati sebagai pemeran utama yang harus berakting hebat," ungkap Nina.

Pada akhirnya, sejarah menunjukkan pola yang terus berulang. Kekuasaan kerap berjalan beriringan dengan kemewahan elite, sementara rakyatnya tetap menanggung penderitaan.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bupati Terkaya di Jawa Hidup Mewah, Rakyatnya Hidup Menderita


Most Popular
Features