Duit Investor Menguap, SpaceX Bakar Rp288 T Cuma buat AI
Jakarta, CNBC Indonesia - Elon Musk akhirnya "sampai" ke Bulan - tapi bukan dengan cara yang ia impikan. Roket bekas milik SpaceX diyakini menghantam permukaan Bulan pada Rabu (5/8/2026), setelah melayang tanpa arah di luar angkasa sejak Januari 2025.
Objek tersebut merupakan bagian atas (upper stage) roket Falcon 9 yang jatuh di dekat kawah Einstein dengan kecepatan hampir 9.000 kilometer per jam.
Namun bukan hanya di Bulan benturan itu terasa. Sehari sebelumnya, SpaceX merilis laporan keuangan kuartalan perdananya sejak melantai di bursa pada Juni lalu dan hasilnya mengguncang pasar saham, mulai dari produsen chip hingga operator telekomunikasi.
Pendapatan Meroket, Tapi Masih Merugi
Pendapatan SpaceX melesat 92% secara tahunan (year on year) pada kuartal II-2026. Menariknya, mesin uang utama perusahaan kini bukan lagi sekadar bisnis roket dan satelit, melainkan unit kecerdasan buatan (AI) yang beroperasi di darat.
Masalahnya, SpaceX masih membukukan kerugian. Untuk membangun kapasitas komputasi yang disewakan ke raksasa AI seperti Anthropic dan Google, perusahaan harus menggelontorkan dana jumbo.
Mengutip laporan The Economist, belanja modal (capital expenditure) untuk AI tercatat mendekati US$ 16 miliar atau sekitar Rp 288 triliun dalam satu kuartal saja atau lebih dari dua kali lipat total pendapatan grup. Angka ini diperkirakan masih akan membengkak.
Investor pun kabur. Nilai pasar SpaceX, yang sebelumnya sudah anjlok lebih dari US$ 1 triliun dari puncaknya, kembali merosot. Tekanan diperparah kekhawatiran atas US$ 100 miliar saham yang membanjiri pasar pada 6 Agustus, seiring berakhirnya masa penguncian (lock-up) bagi investor awal, eksekutif, dan karyawan.
Janji Manis Musk: Pendapatan Rp 16.000 Triliun
Untuk memikat investor baru, Musk melempar angka-angka fantastis. Ia menyebut kapasitas pusat data yang tahun ini sekitar 2 gigawatt (GW) akan "lebih dekat ke 10GW ketimbang 5GW" pada akhir 2027.
Bos SpaceX itu juga menargetkan pendapatan menembus US$ 1 triliun (sekitar Rp 18.000 triliun) pada 2030 atau lebih dari 20 kali lipat proyeksi tahun ini. Ia turut mengumbar janji besar untuk Starlink, yang kini menjaring pelanggan korporasi dan pemerintahan.
Meski sebagian pihak hanya memutar bola mata mendengar "Muskisme" tersebut, dampaknya nyata di lantai bursa.
Saham Nvidia melonjak pada 5 Agustus setelah Musk berjanji pusat data SpaceX akan sepenuhnya mengandalkan chip AI canggih buatan perusahaan tersebut.
Sebaliknya, saham operator telekomunikasi AS seperti AT&T, Verizon, dan T-Mobile berguguran. Pemicunya, Presiden SpaceX Gwynne Shotwell menyatakan satelit seluler baru yang diluncurkan tahun depan yang ditambah spektrum yang dibeli dari EchoStar, akan merebut "cukup banyak pelanggan mereka".
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]