MARKET DATA

Rupiah Melaju Jelang Akhir Pekan, Dolar Turun ke Rp17.885

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
07 August 2026 15:04
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah menutup perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda pun mencatatkan penguatan selama tiga hari perdagangan beruntun.

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), rupiah terapresiasi 0,14% ke posisi Rp17.885/US$.

Rupiah telah bergerak di zona hijau sejak pembukaan perdagangan. Pada pagi hari, rupiah dibuka menguat tipis 0,03% ke level Rp17.905/US$, kemudian bertambah kuat 20 poin hingga penutupan.

Penguatan hari ini melanjutkan kinerja positif pada dua perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (6/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,08% ke posisi Rp17.910/US$, setelah melonjak 0,50% pada Rabu.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,965.

Rupiah tetap mampu menguat meski DXY bergerak tipis di zona hijau. Pergerakan mata uang Garuda hari ini turut diwarnai oleh pengumuman cadangan devisa Indonesia periode Juli 2026.

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 mencapai US$145,3 miliar. Jumlah tersebut turun tipis sebesar US$300 juta dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang mencapai US$145,6 miliar.

Perkembangan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah. Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan pembayaran utang luar negeri dan BI menjalankan kebijakan stabilisasi rupiah di tengah kembali meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlahnya juga masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Jumat (7/8/2026).

Meski turun tipis, cadangan devisa yang masih memadai dapat menjaga kepercayaan terhadap ketahanan eksternal Indonesia. Posisi tersebut juga memberikan ruang bagi BI untuk melanjutkan stabilisasi nilai tukar apabila volatilitas pasar keuangan global kembali meningkat.

Dari eksternal, pelaku pasar masih menantikan laporan ketenagakerjaan AS periode Juli.

Data tersebut akan menjadi petunjuk berikutnya bagi pasar dalam memperkirakan arah suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), sekaligus menentukan pergerakan dolar AS.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Menang Lawan Dolar AS, Ditutup Menguat ke Rp17.910


Most Popular
Features