MARKET DATA

DBS Indonesia Ungkap Peluang Investasi di Tengah Ketidakpastian Global

Elga Nurmutia,  CNBC Indonesia
05 August 2026 07:35
DBS Insights Forum 2026
Foto: DBS Insights Forum 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh perubahan geopolitik, arah kebijakan suku bunga, hingga volatilitas pasar keuangan terus membentuk lanskap investasi yang semakin kompleks. Dalam kondisi seperti ini, investor membutuhkan perspektif yang lebih luas dan strategi yang terukur untuk memahami risiko sekaligus menangkap peluang yang muncul dari perubahan tatanan ekonomi dunia.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Bank DBS Indonesia menggelar DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World. Forum ini menghadirkan para pakar dari berbagai bidang untuk membahas prospek ekonomi, arah pasar, peluang investasi, hingga strategi pengelolaan kekayaan yang relevan bagi nasabah di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong mengatakan, DBS Insights Forum 2026 dirancang khusus untuk nasabah private dan priority banking dalam menavigasi pengelolaan kekayaan di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi.

"Dengan menyajikan beragam perspektif, forum ini diharapkan memberikan panduan dan praktik terbaik dalam mengembangkan kekayaan dan usaha, hingga perencanaan suksesi keluarga yang berkelanjutan. Kami terus berkomitmen untuk mendukung nasabah agar lebih optimis dalam mengambil keputusan melalui arahan profesional dan pandangan strategis jangka panjang," ungkap Lim Chu Chong dalam DBS Insights Forum 2026, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

DBS Insights Forum 2026 terbagi dalam empat sesi. Pertama, membahas dampak dinamika hubungan Amerika Serikat-Tiongkok serta implikasi ketegangan geopolitik terhadap pasar global dan peluang investasi di tengah perubahan tekanan ekonomi dunia.

Sementara sesi kedua mengulas bagaimana Indonesia memperkuat kepercayaannya di pasar dan menjaga ketahanan pertumbuhan ekonomi di tengah dampak dinamika geopolitik yang terus berkembang.

Sedangkan sesi ketiga mengupas bagaimana generasi penerus membangun legacy yang relevan dan menyeimbangkan tujuan pribadi dan keluarga, serta mengarahkan kekayaannya untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan. Lalu sesi terakhir mengeksplorasi pendekatan non-tradisional dalam pengelolaan kekayaan dan pertumbuhan bisnis sebagai sumber utama peningkatan nilai kekayaan.

DBS Insights Forum 2026 ditutup dengan Gala Dinner dengan tema "The Future Growth of Indonesia". Sesi ini menghadirkan diskusi dari berbagai pakar, yakni Executive Director Charta Politica Yunarto Wijaya, Head of Distribution PT Eastspring Investment Indonesia Reza Darma, Director PT Ashmore Asset Management Indonesia Steven Yudha, dan Head of Research PTBank DBS IndonesiaWilliam Simadiputra.

Mereka berbagi pandangannya mengenai prospek ekonomi dan perkembangan pasar modal Indonesia serta pentingnya kepastian kebijakan dalam meningkatkan partisipasi investasi swasta.

Yunarto menjelaskan ketidakpastian ekonomi saat ini tidak lepas dari pergeseran peta politik global (shifting politic) dan eskalasi ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini diperparah oleh dinamika kepemimpinan dunia, termasuk terpilihnya kembali Donald Trump di Amerika Serikat.

Meski dibayangi ketidakpastian global, Asia kini bertransformasi menjadi pusat gravitasi ekonomi baru. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) serta belanja riset dan pengembangan (R&D) di Asia, khususnya terkait teknologi AI, tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan Eropa.

Bahkan, saat ini Asia mendominasi 65% dari total ekspor barang-barang pendukung AI di seluruh dunia. Kendati demikian, porsi besar tersebut dinilai belum mampu dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia.

"Jika melihat data 20 besar negara eksportir barang-barang terkait AI, saya tidak menemukan nama Indonesia. Saya justru menemukan Filipina dan Malaysia," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Reza mengatakan Indonesia mengalami berbagai kondisi penurunan pasar modal, yakni pada 2008, 2012, dan 2015. Ketika terjadi penurunan, kata dia, kondisi itu akan berbalik dan membawa optimisme.

Dia juga menjelaskan berbagai sektor yang bisa menjadi perhatian di tengah kondisi tersebut. Ketiga sektor ini yakni komoditas, konsumer, dan telekomunikasi.

"Meskipun memang kita lihat gejolaknya masih ada, namun secara fundamental saham-sahamnya, khususnya industri itu masih bagus, jadi di balik lagi, once para investor sudah mulai fokus kepada fundamentalnya, harusnya ini secara momentum itu bisa berangsur terus improve baik," tegas Reza.

William juga turut menaruh pandangannya terhadap industri teknologi, khususnya, AI dalam pasar modal. Menurut dia, sebagai strategi menghadapi inflasi global, sebagian besar alokasi portofolio dialihkan ke instrumen investasi yang tangguh terhadap inflasi, salah satunya sektor industri AI.

Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan masif data center berskala besar (hyperscalers) pendukung AI menuntut kesiapan ketahanan energi yang membutuhkan waktu tidak sebentar untuk dibangun.

Di sisi lain, Indonesia dinilai memiliki daya tarik yang unik. Hal ini mengingat pasar investasi di Indonesia dinilai belum terlalu ramai, sehingga memberikan ruang pertumbuhan yang lebih sehat bagi para investor.

Sebagai kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN dengan populasi lebih dari 200 juta jiwa dan keunggulan di sektor komoditas, Indonesia memiliki model ekonomi yang kuat. Langkah regulator dalam negeri yang mulai mendapatkan traksi dan apresiasi dari lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI serta Standard & Poor's (S&P) juga dinilai berhasil meningkatkan kepercayaan pasar.

"Ketika situasi pasar belum terlalu ramai, ini adalah momen yang sangat baik bagi kami untuk mengambil posisi secara global. Jika semuanya sudah terlalu jelas dan ramai, ruang keuntungannya justru mengecil," jelasnya.

Melalui forum ini, Bank DBS Indonesia menegaskan komitmennya untuk menghadirkan insights mendalam dan rekomendasi investasi strategis dari para pakar, guna membantu nasabah menavigasi dinamika pasar, mengidentifikasi peluang investasi, dan mengambil keputusan finansial dengan lebih percaya diri.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client sebagai mitra tepercaya dalam mengelola dan mengembangkan kekayaan. Dengan dukungan insights mendalam dari Best Chief Investment Office by The Assetsserta pandangan strategis dari para pakar, nasabah dapat mengambil keputusan finansial secara lebih terinformasi, mulai dari pengelolaan aset, perencanaan suksesi, hingga penciptaan legacy yang bermakna bagi generasi mendatang.

Keunggulan layanan wealth management Bank DBS Indonesia juga tercermin melalui berbagai penghargaan bergengsi yang diraih, antara lain Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia serta Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, dan Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bankir Singapura Optimis Ekonomi Indonesia Positif


Most Popular
Features