Pefindo Pangkas Peringkat ADHI Jadi idBB, Sinyal Tekanan Likuiditas
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memangkas peringkat PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menjadi idBB dengan CreditWatch implikasi Negatif, turun dari peringkat sebelumnya idA- dengan prospek Negatif. Peringkat Obligasi Berkelanjutan (PUB) III dan PUB IV yang diterbitkan ADHI juga ikut dipangkas menjadi idBB.
Dalam publikasinya yang dirilis 31 Juli 2026, Pefindo menyebut pemangkasan peringkat ini mencerminkan rencana ADHI menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dengan agenda permohonan penundaan pembayaran kupon obligasi yang beredar. Pembayaran kupon terdekat sendiri jatuh tempo pada 24 Agustus 2026.
"Rencana ini menunjukkan bahwa Perusahaan mengalami tekanan likuiditas akut, yang secara material telah melemahkan kemampuannya untuk memenuhi kewajiban keuangan tepat waktu," tulis Pefindo.
Tekanan likuiditas tersebut disebut terutama berasal dari lemahnya arus kas operasional secara terus-menerus, di tengah keterbatasan fleksibilitas keuangan termasuk akses pendanaan, serta kondisi jangka panjang yang menantang di sektor konstruksi Indonesia.
Pefindo menilai peringkat ADHI masih ditopang oleh posisi pasar perusahaan yang memadai, namun dibatasi oleh risiko likuiditas tinggi, leverage yang tinggi, risiko eksekusi terkait order book, serta lingkungan bisnis yang volatil. Lembaga pemeringkat ini juga membuka opsi peninjauan lebih lanjut berdasarkan hasil keputusan RUPO.
Meski demikian, jika pemegang obligasi menyetujui penundaan kupon, hal itu dianggap justru berpotensi memicu penurunan peringkat lebih dalam, karena dipandang sebagai bentuk restrukturisasi utang bermasalah untuk menghindari gagal bayar.
Dari sisi kinerja keuangan, Pefindo menyebut total aset yang disesuaikan (adjusted assets) ADHI per Juni 2026 tercatat Rp26,21 triliun, turun dari Rp28,79 triliun di akhir 2025. Total ekuitas yang disesuaikan perseroan bahkan menyusut tajam menjadi Rp2 triliun, dari Rp3,3 triliun pada akhir 2025, dan juga jauh lebih kecil dibandingkan Rp9,68 triliun pada 2024.
Total penjualan ADHI pada semester I-2026 tercatat Rp3,3 triliun, sementara EBITDA perseroan sebesar Rp535,8 miliar dengan margin EBITDA 16,2%.Â
Rasio utang yang disesuaikan terhadap EBITDA (adjusted debt/EBITDA) ADHI melonjak menjadi 7,7 kali secara tahunan (annualized) per Juni 2026. Rasio utang terhadap ekuitas yang disesuaikan juga meningkat menjadi 4,1 kali, dari 2,5 kali pada akhir 2025.
ADHI merupakan perusahaan kontraktor milik negara yang berdiri sejak 1960, dengan empat segmen bisnis utama: konstruksi; engineering, procurement, and construction (EPC); properti dan realti; serta infrastruktur investasi. Per 30 Juni 2026, PT Danantara Aset Management (Persero) tercatat sebagai pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 64,3%, sementara sisanya dimiliki publik.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]