MARKET DATA

Investor Jauhi Sahan Tesla & SpaceX, Gurita Bisnis Elon Musk Terancam?

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
24 July 2026 17:10
Elon Musk. (Patrick Pleul/Pool via REUTERS/File Photo)
Foto: Elon Musk. (Patrick Pleul/Pool via REUTERS/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap kerajaan bisnis Elon Musk kian meningkat. Setelah sempat dinobatkan sebagai triliuner pertama di dunia berkat lonjakan valuasi SpaceX usai penawaran saham perdana (IPO), kini investor mulai mempertanyakan kemampuan miliarder tersebut memenuhi sederet janji ambisius di SpaceX maupun Tesla.

Sentimen negatif memukul saham Tesla yang anjlok 15% pada perdagangan Kamis, berdasarkan catatan The Wall Street Journal. Penurunan itu menghapus kapitalisasi pasar sekitar US$215 miliar setelah produsen mobil listrik tersebut melaporkan pendapatan yang meleset dari ekspektasi serta membukukan arus kas negatif untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Aksi jual Tesla juga terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap belanja besar perusahaan-perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Dalam paparan kinerja keuangan, Musk turut mengendurkan target sejumlah proyek unggulan Tesla. Beberapa di antaranya adalah layanan Robotaxi, robot humanoid Optimus, hingga truk listrik Semi yang selama bertahun-tahun disebut akan menjadi mesin pertumbuhan baru perusahaan.

Sementara itu, tekanan juga menghantam SpaceX. Setelah melantai di bursa dengan harga IPO US$135 per saham dan sempat melonjak di atas US$225 beberapa hari setelah debutnya, harga saham perusahaan kini telah terkoreksi hampir 50% dari puncaknya. Bahkan, saham SpaceX sempat diperdagangkan di bawah harga IPO dan telah menghapus lebih dari US$1 triliun nilai pasar dari level tertinggi.

Pekan lalu, tekanan terhadap saham SpaceX bertambah setelah perusahaan menunda uji coba roket Starship. Penundaan tersebut diperparah oleh kekhawatiran investor terhadap berakhirnya masa lock-up saham pada awal Agustus, yang memungkinkan para pemegang saham lama dan orang dalam perusahaan mulai menjual kepemilikannya ke pasar.

Investor kini menanti peluncuran uji coba Starship berikutnya, yang diundur dari Kamis menjadi Jumat malam akibat cuaca buruk di Texas.

Mantan eksekutif industri satelit sekaligus konsultan, Samer Halawi, menilai keputusan SpaceX melantai di bursa membuat perusahaan menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding saat masih berstatus perusahaan privat.

"Akses terhadap modal kini akan diawasi dengan ketat. Ketika Anda menjadi perusahaan publik, investor mengharapkan imbal hasil. Anda tidak bisa lagi beroperasi seperti sebelumnya," ujar Halawi kepada The Wall Street Journal, dikutip Jumat (24/7/2026).

Meski menghadapi tekanan, valuasi kedua perusahaan masih tergolong sangat besar. Kapitalisasi pasar SpaceX tercatat sekitar US$1,57 triliun, sedangkan Tesla mencapai US$1,26 triliun.

Investor pada dasarnya masih memberikan premi tinggi terhadap kepemimpinan Musk dan berbagai proyek masa depan yang dikembangkannya. Pendukung Musk juga menilai sang pengusaha memiliki rekam jejak membangun pasar baru jauh sebelum industri tersebut berkembang, seperti dominasi Tesla di kendaraan listrik dan keberhasilan SpaceX di bisnis peluncuran roket.

Namun, kesabaran sebagian investor mulai menipis.

Influencer Tesla, Dillon Loomis, misalnya, mengkritik kebiasaan Musk menetapkan target yang sulit dipenuhi.

"Saya menyukai Tesla dan telah menjadi penggemar selama lebih dari satu dekade. Jika target-target itu masih sangat tidak pasti, sebaiknya jangan diumumkan ke publik. Mengatakannya secara terbuka tetapi kemudian gagal mendekati target hanya akan merugikan perusahaan dan para pendukungnya," tulis Loomis melalui media sosial X.

Dalam konferensi pers kinerja keuangan, manajemen Tesla juga mendapat sejumlah pertanyaan dari investor individu yang kecewa terhadap lambatnya ekspansi layanan Robotaxi. Hingga Juli, layanan tersebut baru tersedia di tujuh kota, jauh dari pernyataan Musk pada Januari lalu yang menyebut Robotaxi akan hadir di seperempat hingga setengah wilayah Amerika Serikat sebelum akhir tahun.

Selain Robotaxi, Tesla juga belum memenuhi jadwal demonstrasi robot humanoid Optimus generasi ketiga yang sebelumnya dijanjikan berlangsung pada kuartal pertama. Di sisi lain, perusahaan tetap menyatakan produksi massal truk listrik Semi ditargetkan dimulai sebelum akhir tahun, meski Musk pada April hanya mengatakan produksinya akan dimulai "segera".

Di kubu SpaceX, masa depan perusahaan juga masih sangat bergantung pada keberhasilan pengembangan Starship. Peluncuran yang dijadwalkan pada 16 Juli dibatalkan setelah ditemukan masalah pada mesin pendorong roket.

Keberhasilan Starship dinilai krusial karena SpaceX harus segera mengubah program tersebut dari sekadar tahap pengujian menjadi sumber pendapatan. Dalam dokumen IPO, perusahaan memperkirakan Starship mulai digunakan untuk meluncurkan satelit Starlink generasi terbaru pada paruh kedua tahun ini.

Tekanan lain datang dari berakhirnya masa penguncian saham (lock-up) pada 6 Agustus, dua hari setelah laporan keuangan perdana SpaceX sebagai perusahaan publik. Berakhirnya periode tersebut akan menambah sekitar 911,5 juta saham yang dapat diperdagangkan di pasar, hampir dua kali lipat jumlah saham yang sebelumnya beredar bebas.

Di tengah berbagai tantangan itu, muncul spekulasi bahwa Musk suatu saat dapat menggabungkan SpaceX dan Tesla menjadi satu perusahaan yang berfokus pada pengembangan AI.

Menanggapi spekulasi tersebut, Musk mengakui adanya sinergi yang semakin besar antara kedua perusahaan, terutama dalam proyek pengembangan chip AI di Texas. Meski demikian, ia menegaskan pembahasan mengenai kemungkinan merger tidak dapat dilakukan dalam konferensi pers kinerja keuangan dan harus melalui proses yang sesuai.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Demam AI Bikin Konglo Teknologi Dunia Makin Kaya, Ini Buktinya


Most Popular
Features