MARKET DATA

Bos Perbanas Blak-Blakan Soal Dampak ke Bank Jika BI Rate Naik

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
21 July 2026 18:05
Direktur Utama (Dirut) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan dalam sesi Educational Class di acara Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesi
Foto: Direktur Utama (Dirut) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan dalam sesi Educational Class di acara Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyatakan bahwa profitabilitas industri perbankan akan tertekan jika suku bunga acuan bank sentral meningkat.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hery Gunardi mengatakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) alias BI Rate akan berimbas pada kenaikan suku bunga deposito. Namun, kenaikan bunga deposito itu bergantung dengan struktur pendanaan masing-masing bank.

"Seperti pernah saya sampaikan, kalau suku bunga tinggi itu yang meningkat pricing-nya hanya deposito. Deposito itu tergantung dari bank masing-masing yang jumlah struktur pendanaannya kan beda-beda," jelas Heru ditemui di Sentra BRI, Selasa (21/7/2026).

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) itu memastikan bahwa di bank yang ia pimpin, jumlah dana murah (CASA) alias giro dan tabungan mendominasi struktur pendanaan. Hery menyebut dana murah tidak terpengaruh dengan kenaikan suku bunga acuan.

"Seperti BRI kan tabungannya besar sekali, kemudian giro. Dan giro dan tabungannya nggak ikut naik. Yang naik kan deposito yang memang sensitif terhadap pricing," tuturnya.

Namun demikian, Hery membenarkan bahwa kenaikan biaya pendanaan alias cost of fund akan meningkat karena tingginya suku bunga. Dalam menindaklanjuti kondisi ini, ia menyebut perbankan tidak bisa serta-merta mengerek naik suku bunga kredit. Menurutnya, ada waktu transmisi suku bunga terhadap suku bunga kredit.

"Jadi pasti ada peningkatan cost of fund. Tapi cost of fund yang naik ini, gimana caranya mentransmit menjadi loan price kita kan ga bisa semerta-merta. Hari ini naik, suku bunga langsung, nggak. Mungkin itu ada lag time. 3-4 bulan," terang Hery.

Ketika ditanya apakah ada perang suku bunga, Hery menjawab singkat bahwa hal itu terjadi di deposito perbankan.

Seperti diketahui, BI Rate telah dikerek sebanyak 100 basis poin (bps) sepanjang tahun ini. Saat ini, BI rate berada di level 5,75%. Besok, keputusan BI rate akan diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.

Bila menilik data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio profitabilitas seluruh kelompok perbankan memang tergerus sepanjang tahun ini.

Tercatat, rasio net interest margin (NIM) KBMI I sebesar 4,70% pada akhir tahun 2025, dan sempat turun ke 4,56% pada bulan Februari, namun kembali lagi ke 4,70% pada bulan Mei 2026.

Bank KBMI II mencatatkan NIM sebesar 4,84% di bulan Mei 2026, turun dari akhir tahun lalu sebesar 5,11%. Bank papan tengah alias KBMI III juga mencatatkan penurunan menjadi 3,77% pada bulan Mei 2026, dari akhir tahun lalu sebesar 3,91%.

Tak terluput, big banks RI alias bank KBMI IV, yang mencatatkan NIM sebesar 4,78% per Mei 2026. Pada akhir tahun lalu, NIM kelompok bank jumbo RI berada di level 5,08%.

(ayh/ayh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos OJK Ungkap 40% Layanan Nasabah Bank Dilakukan Oleh AI


Most Popular
Features