MARKET DATA

Rupiah Ditutup Perkasa, Dolar AS Kini Turun ke Rp17.880

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 July 2026 15:03
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Ditengah pelemahan dolar AS di pasar global. 

Melansir data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.875/US$, menguat 0,28% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.930/US$. Penguatan sejatinya sudah terjadi sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, ketika rupiah dibuka menguat tipis 0,06% di level Rp17.920/US$. 

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak dalam rentang level Rp17.860-Rp17.945 per dolar AS. 

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,06% ke level 100,892. Pelemahan dolar AS turut memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat pada perdagangan hari ini.

Pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi dinamika baik dari dalam maupun luar negeri.

Dari eksternal, dinamika pergerakan dolar AS di pasar global masih menjadi perhatian pasar. Meski DXY melemah tipis pada sore hari, posisinya masih berada dekat level 101 karena pasar tetap berhati-hati menghadapi perkembangan konflik di Timur Tengah.

Ketegangan di Timur Tengah tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Kondisi ini membuat harga minyak bergerak di sekitar level tertinggi dalam enam pekan.

Kenaikan harga minyak berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi global. Situasi tersebut dapat membuat sejumlah bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama sekaligus menjaga permintaan terhadap dolar AS.

Meski demikian, harapan meredanya konflik masih terbuka setelah Teheran menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator. Kabar tersebut turut meredakan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan diumumkan pada Rabu (22/7/2026). Pelaku pasar menantikan keputusan BI mengenai suku bunga acuan setelah bank sentral menaikkannya sebesar total 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,75%.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari kondisi fiskal Indonesia yang masih terjaga. Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I-2026 sebesar Rp196,5 triliun atau setara dengan 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Defisit tersebut berasal dari pendapatan negara sebesar Rp1.459 triliun dan belanja negara Rp1.656,6 triliun. Keseimbangan primer tercatat sebesar Rp85,1 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pendapatan negara tumbuh 21,4% secara tahunan (year on year/yoy) sepanjang semester I-2026. Pemerintah juga memastikan defisit APBN hingga akhir tahun tetap dijaga di bawah batas 3% terhadap PDB.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Bertahan di Rp18.160


Most Popular
Features