IHSG Melesat 0,86% ke Level 6.228 Ditopang Saham BBRI & TLKM
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,86% pada akhir perdagangan sesi pertama, Senin (20/7/2026), didorong aksi beli yang terjadi hampir di seluruh sektor di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang sejumlah agenda penting bank sentral pekan ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IDX Mobile, IHSG berada di level 6.228,92, melonjak 53,38 poin atau 0,86% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Penguatan indeks diikuti membaiknya market breadth. Tercatat sebanyak 398 saham menguat, 188 saham melemah, sementara 205 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 8,27 triliun dengan volume perdagangan 20,1 miliar saham dalam 1,4 juta kali transaksi.
Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan di bursa menguat dengan hanya kesehatan dan utiliti yang terkoreksi. Sementara itu sektor konsumer primer naik 1,47%, barang baku ,118%, energi 0,99% dan properti 0.98%.
Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi penggerak utama kinerja IHSG dengan kenaikan 11,68 indeks poin, lalu diikuti oleh Telkom Indonesia (TLKM) sebanyak 7,38 indeks poin dan Bank Central Asia (BBCA) 4,41 indeks poin.
Saham BBRI juga tercatat menjadi yang paling diborong investor asing pada sesi pertama dengan net buy senilai Rp 117 miliar, meski secara keseluruhan di pasar modal hari ini asing membukukan aksi jual bersih (net sell) Rp 303 miliar. Saham TLKM juga diborong asing senilai Rp 18 miliar, sedangkan BBCA tercatat dijual asing (net sell) Rp 53 miliar.
Penguatan IHSG terjadi di tengah pergerakan bursa Asia yang cenderung bervariasi. Investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi, sekaligus menunggu rangkaian keputusan suku bunga dari sejumlah bank sentral dunia.
Dari dalam negeri, fokus utama tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada Rabu (22/7/2026). Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, seiring mulai stabilnya rupiah dan inflasi yang masih berada dalam rentang sasaran bank sentral.
Sementara itu, dari eksternal pelaku pasar juga menantikan keputusan Loan Prime Rate (LPR) China, suku bunga European Central Bank (ECB), serta rilis data perdagangan dan inflasi Jepang. Serangkaian agenda tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan global, termasuk IHSG, sepanjang pekan ini.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]