MARKET DATA

Rupiah Makin Perkasa, Dolar AS Turun Dibawah Rp18.000

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
16 July 2026 15:06
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Penguatan terjadi di tengah dolar AS yang masih dalam tren pelemahan.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup terapresiasi 0,44% ke level Rp17.980/US$. Posisi tersebut membuat rupiah berhasil keluar dari level psikologis Rp18.000/US$. Level ini juga menjadi posisi terkuat rupiah dalam sepekan terakhir.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.970-Rp18.070/US$. Penguatan hari ini membuat rupiah sudah menguat dalam tiga hari perdagangan beruntun.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau bergerak stabil di level 100,848. Meski stabil, DXY masih berada dalam tren penurunan setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,43%.

Penguatan rupiah hari ini masih ditopang oleh pelemahan dolar AS di pasar global. Pelaku pasar terlihat melakukan aksi jual pada aset berdenominasi dolar AS, sehingga ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbuka.

Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia setelah data harga produsen Amerika Serikat (AS) dirilis lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut memperkuat tanda-tanda meredanya tekanan inflasi di AS.

Producer Price Index (PPI) untuk permintaan akhir turun 0,3% pada Juni 2026. Angka ini berbalik dari Mei 2026 yang sebelumnya direvisi menjadi naik 0,6%.

Realisasi tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan PPI tidak berubah. Data harga produsen yang lebih rendah memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) masih dapat bersabar dalam menentukan arah suku bunga.

Meski begitu, pasar tetap mencermati eskalasi terbaru antara AS dan Iran. Ketegangan yang kembali meningkat membuat harga minyak masih bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan terakhir, sehingga risiko terhadap prospek inflasi belum sepenuhnya mereda.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) terus berupaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa BI telah masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri atau offshore sejak April 2026.

Hal tersebut disampaikan Destry dalam Investment Forum 2026 yang digelar CNBC Indonesia di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/7/2026).

"Sejak April, terobosan BI masuk di pasar NDF 24 jam 6 hari. Kami menggunakan kanwil di luar untuk masuk monitor NDF," kata Destry.

Menurut Destry, BI masuk ke pasar NDF dengan bantuan kantor perwakilan di luar negeri, termasuk Singapura, Hong Kong, dan New York.

Selain itu, BI juga memberi pengecualian atas larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu yang memenuhi syarat.

Kebijakan ini ditempuh untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah serta pendalaman pasar keuangan domestik.

"Dalam rangka stabilisasi moneter bisa jual NDF, tidak boleh beli. Cover di DNDF itu sifatnya voluntary. Kenapa primary dealers, karena ada hubungan ke BI dan banyak juga terkait LCT dan sebagainya," papar Destry.

Selain pelonggaran NDF offshore bagi dealer PUVA, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valas dengan instrumen spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp18.055


Most Popular
Features