MARKET DATA

IHSG Sesi I Dibuka Naik 0,33% ke Level 6.057

Redaksi,  CNBC Indonesia
14 July 2026 09:04
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026), di tengah dominasi sentimen global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG naik 19,92 poin atau 0,33% ke level 6.057,76. Sebanyak 286 saham menguat, 63 saham melemah, dan 274 saham bergerak stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 284,68 miliar yang melibatkan 366,68 juta saham dalam 113.187 kali transaksi.

Adapun emiten yang paling ramai ditransaksikan hari ini adalah BBCA, TPIA, BBRI, BMRI dan BUMI.

Hari ini pelaku pasar global dan domestik akan memfokuskan perhatian pada serangkaian rilis data makroekonomi esensial.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini setelah lembaga rating Standar & Poor's (S&P) mempertahankan rating investment grade dan outlook stabil mereka. Keputusan ini menjadi kabar baik setelah sebelumnya lembaga rating tersebut dikabarkan akan menurunkan outlook Indonesia.

S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook tetap stabil.

Keputusan tersebut menjadi angin segar bagi pasar dan pemerintah. Pasalnya, sejak awal 2026 Indonesia beberapa kali mendapat tekanan dari lembaga pemeringkat global, setelah Moody's dan Fitch Ratings lebih dulu menurunkan prospek (outlook) Indonesia. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, keputusan S&P menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih tetap terjaga.

Dalam laporannya, S&P menyatakan outlook stabil mencerminkan keyakinan bahwa penerimaan pemerintah akan terus pulih, ekspor membaik berkat kenaikan harga komoditas, serta disiplin menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB tetap menjadi jangkar kebijakan.

Di balik keputusan mempertahankan rating Indonesia, S&P menyoroti lima faktor utama:

  1. Ekonomi tetap kuat, dengan pertumbuhan diproyeksikan 5,1% pada 2026 dan sekitar 4,9% per tahun hingga 2029.
  2. Penerimaan negara mulai pulih, didukung membaiknya penerimaan pajak dan pendapatan dari sektor sumber daya alam.
  3. Hilirisasi, Danantara, dan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan ekspor melalui penguatan tata kelola sektor komoditas.
  4. Disiplin fiskal tetap terjaga, dengan defisit diperkirakan tetap di bawah batas 3% PDB.
  5. Stabilitas kebijakan dan institusi masih menjadi kekuatan Indonesia, termasuk independensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan rupiah.

S&P menilai indikator fiskal dan moneter dinilai tetap solid. Pemerintah diyakini mampu menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), didukung oleh realisasi pendapatan negara yang tumbuh 21,4% secara tahunan pada Semester I-2026 menjadi Rp1.459,4 triliun, serta langkah efisiensi pada pos belanja strategis.

Pada sektor moneter, S&P mengapresiasi independensi operasional Bank Indonesia pasca-revisi UU P2SK dan menilai keputusan penyesuaian suku bunga acuan hingga ke level 5,75% pada Juni 2026 sebagai langkah proaktif yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Meski demikian, S&P Global turut memberikan catatan penting yang masih perlu diperhatikan:

1. Ekonomi Tumbuh, Pasar Keuangan Tertekan
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6% pada kuartal I-2026. Namun, IHSG kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar dan rupiah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS.

2. Perang Timur Tengah Jadi Ancaman
S&P menilai konflik di Timur Tengah dan gangguan Selat Hormuz menjadi risiko baru karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak.

3. Harga Minyak Jadi Beban
Kenaikan harga komoditas belum mampu menutupi lonjakan harga minyak, sehingga neraca perdagangan memburuk sejak Maret.

4. Risiko Kebijakan Masih Ada
Perubahan kebijakan di sektor sumber daya dinilai berpotensi mengganggu kepercayaan investor, meski pemerintah dinilai tetap fleksibel.

5. Beban Utang Masih Berat
Pembayaran bunga utang diperkirakan tetap tinggi pada 2026-2027, dipicu tingginya yield obligasi dan pelemahan rupiah

6. Posisi Eksternal Melemah
Defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar menjadi 2,1% PDB, sementara kebutuhan pembiayaan eksternal juga meningkat.

Pelaku pasar keuangan juga akan diharapkan pada sejumlah pengumuman data penting, terutama dari Amerika Serikat.

Data-data ini diproyeksikan akan memberikan indikasi lanjutan terkait arah kebijakan moneter dari bank sentral utama, efektivitas langkah pemulihan ekonomi, serta dampak dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas harga komoditas global. Indikator yang akan dirilis mencakup kinerja perdagangan dan inflasi.

Sementara itu, Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Selasa, (14/7/2026) seiring investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), musim laporan keuangan emiten, serta rilis data inflasi Negeri Paman Sam.

Melansir CNBC, investor juga menperhatikan kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak dapat mempertahankan tekanan inflasi turut membebani sentimen pasar.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,17%, sementara Topix melemah 0,51%. Bursa Korea Selatan juga bergerak di zona merah dengan Kospi anjlok 2,01% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 1,8%.

Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 dibuka melemah 0,29%. Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng berada di level 24.158, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 24.213,72.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS naik tajam karena investor khawatir kenaikan harga minyak akan menjaga inflasi tetap tinggi. Kondisi tersebut memicu volatilitas di pasar menjelang dimulainya musim laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar di Wall Street.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News! IHSG Turun 1%


Most Popular
Features