Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Kini Parkir di Rp18.100
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah harus mengakhiri perdagangan awal pekan ini di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di level Rp18.100/US$ atau melemah 0,30% pada perdagangan Senin (13/7/2026). Posisi tersebut membuat rupiah kembali berada di level terlemah dalam sebulan terakhir.
Sepanjang perdagangan, rupiah sejatinya sudah berada dalam tekanan sejak pagi. Mata uang Garuda dibuka melemah di level Rp18.075/US$, sebelum koreksinya semakin dalam hingga menembus level psikologis Rp18.100/US$. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah harian di Rp18.140/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,04% ke level 100,985.
Pelemahan rupiah hari ini terutama dipengaruhi oleh tingginya permintaan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global yang kembali meningkat.
Tekanan muncul setelah pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone pada akhir pekan. Iran menargetkan fasilitas AS di sejumlah negara Teluk pada Minggu, sekaligus menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Perkembangan tersebut langsung mengangkat harga minyak pada awal perdagangan Asia. Harga minyak Brent tercatat naik 3,3% ke level US$78,49 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan inflasi global. Inflasi yang kembali meningkat bisa memperbesar peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Saat ini, pelaku pasar mulai condong memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga dua kali hingga akhir tahun. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang tersirat untuk dua kali atau lebih kenaikan suku bunga hingga rapat Desember berada di 52,1%, naik dibandingkan 47,6% pada Jumat lalu.
Kombinasi ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya ekspektasi suku bunga AS membuat dolar AS kembali mendapatkan tenaga. Kondisi ini menjadi tekanan bagi rupiah sepanjang perdagangan awal pekan.
(evw/evw) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]