Boy Thohir & Anindya Bakrie Optimis IHSG Bisa ke 9.000 Lagi, Jika...
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pengusaha menyatakan optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan. Optimisme tersebut didorong oleh fundamental perusahaan terbuka yang dinilai masih kuat serta fundamental ekonomi nasional yang tetap terjaga di tengah dinamika pasar global.
Pengusaha Garibaldi 'Boy' Thohir mengatakan, penilaian terhadap saham seharusnya tetap mengacu pada fundamental perusahaan. Menurutnya, kondisi fundamental perusahaan-perusahaan, khususnya di grup usahanya, masih sangat baik sehingga tidak ada hal yang mengkhawatirkan.
Boy menilai banyak emiten di BEI memiliki kualitas bisnis yang baik, namun tantangan saat ini lebih pada persepsi pasar. Karena itu, ia menilai komunikasi kepada para pemegang saham, terutama investor ritel, perlu terus diperkuat agar memahami kondisi fundamental emiten yang sebenarnya.
Selain fundamental perusahaan, Boy berharap pemerintah terus memberikan dukungan terhadap perusahaan-perusahaan publik. Menurutnya, emiten merupakan perusahaan yang mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik sehingga layak memperoleh dukungan lebih besar.
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah dan perusahaan terbuka penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Menurutnya, dukungan pemerintah selama ini sudah positif, namun masih dapat terus ditingkatkan.
"Saya rasa saya sangat optimis (IHSG bisa mencapai Rp9.000). Karena kalau kita lihat track record belakang, kan pernah tuh saham berapa terus naik berapa kali lipat gitu. Tentunya ya butuh waktu. Karena menurut saya, untuk Indonesia tuh di-compare dengan negara-negara Asia Tenggara, kita masih bagus," ungkap Boy Thohir ditemui usai seremoni IPO RANS, di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat, (10/7/2026).
Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, mengatakan berbagai kritik terhadap pasar Indonesia perlu disikapi secara objektif dengan melihat data fundamental ekonomi. Menurutnya, meski terdapat berbagai sentimen negatif dan distorsi informasi, kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik.
"Faktanya kita lihat bahwa selama tujuh tahun terakhir, pertumbuhan Indonesia ini rata-rata 5%. Inflasi kita juga ada di sekitar 1%-2%. Nah itu adalah pegangan pertama. Yang kedua, tentu kita melihat juga pertambahan lapangan kerja itu 800 ribu di bulan pertama, jadi arahnya sudah benar," tuturnya.
Anindya menilai persepsi negatif pada akhirnya akan berubah apabila fundamental ekonomi tetap konsisten terjaga. Berdasarkan laporan pelaku usaha di 38 provinsi, menurutnya aktivitas investasi masih terus berlangsung meski para pengusaha tetap bersikap waspada terhadap kondisi global.
"Saya bisa mengatakan begini, dalam jangka waktu 3 tahun, ini indeks bukan hanya kembali normal, akan lebih daripada sebelumnya," pungkasnya.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, serta ruang fiskal yang memadai karena rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terkendali. Meski demikian, ia menegaskan seluruh kritik terhadap kondisi ekonomi tetap harus dijawab melalui kinerja dan kebijakan yang nyata.
Anindya menambahkan fluktuasi pasar merupakan hal yang wajar di tengah kondisi pasar global yang likuid dan dinamis. Namun selama pemerintah tetap menjaga pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi domestik, ekspor-impor, serta investasi asing langsung (FDI) dan investasi domestik (PMDN), ia meyakini arus modal akan kembali masuk ke Indonesia karena fundamental ekonomi nasional dinilai lebih baik dibandingkan sejumlah negara tetangga.
Sebagai gambaran, IHSG berada di level Rp5.918,47 per 11.29 WIB hari ini. IHSG telah turun 32,35% secara year to date (ytd), dan 2,01% dalam jangak waktu lima tahun.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]