MARKET DATA

Himbara Siap Jadi Gerbang Masuk Aliran Modal Global Lewat PFII

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
09 July 2026 17:22
Ilustrasi Perkantoran CBD Jakarta. (Dok. Pixabay)
Foto: Ilustrasi Perkantoran CBD Jakarta. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyatakan siap mengambil peran strategis dalam ekosistem Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai gerbang masuk berbagai aliran modal global ke dalam negeri.

Direktur Kelembagaan BNI yang mewakili Himbara, Eko Setyo Nugroho, mengatakan kehadiran PFII berpotensi memperkuat daya saing sektor keuangan nasional sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi. Aktivitas tersebut diharapkan dapat memperkuat fungsi intermediasi sektor keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Dalam hal ini, Eko menyebut Himbara dapat menjadi pintu masuk berbagai jenis investor global apabila PFII berhasil dibangun dengan ekosistem yang kompetitif. Selama ini, menurutnya sebagian besar arus modal tersebut masih mengalir melalui pusat-pusat keuangan internasional di luar Indonesia.

"Dengan PFII, Himbara dapat berperan sebagai gateway bagi masuknya modal global, mulai dari foreign direct investment, investor institusi, sovereign wealth fund, family office, hingga pasar modal," ujar Eko dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia di Komisi XI DPR RI, Kamis (9/7/2026).

Eko menjelaskan, dalam ekosistem tersebut Himbara tidak hanya menjadi penghubung antara investor global dengan peluang investasi di Indonesia, tetapi juga berperan menyediakan layanan keuangan yang terintegrasi.

"Dalam ekosistem ini, Himbara berperan sebagai gateway yang tidak hanya menghubungkan investor global dengan peluang investasi nasional, tapi juga menyediakan solusi keuangan yang terintegrasi, membangun kemitraan strategis, serta mendukung kebutuhan pembiayaan sepanjang siklus investasi. Selanjutnya, modal yang berhasil dihimpun akan dapat disalurkan ke berbagai sektor prioritas nasional," jelasnya.

Meski demikian, Eko menekankan keberhasilan PFII tidak cukup hanya mengandalkan insentif maupun potensi bisnis. Menurutnya, fondasi regulasi, tata kelola, dan kepastian hukum menjadi faktor utama untuk menarik kepercayaan investor.

Selain itu, ia mengatakan implementasi PFII juga perlu dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan infrastruktur, kapasitas industri, dan mitigasi risiko agar manfaat yang diharapkan dapat tercapai secara optimal.

"Dengan pendekatan tersebut, PFII diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat aktivitas keuangan yang berdaya saing di tingkat regional maupun di tingkat global," papar Eko.

Sebagai masukan dalam penyusunan PFII, Himbara juga telah mempelajari sejumlah pusat keuangan internasional yang telah lebih dulu berkembang. Eko mengatakan pihaknya melakukan benchmarking terhadap Abu Dhabi Global Market, Dubai International Financial Centre, International Financial Centre di Hong Kong, dan Singapore International Financial Centre.

Dari benchmarking tersebut, Himbara menemukan bahwa setiap internasional financial center (IFC) memiliki positioning dan target ekonomi yang jelas. Abu Dhabi, sebagai contoh, dan Dubai International Financial Centre, dikembangkan sebagai kawasan khusus atau zone-based IFC. Sementara Hong Kong dan Singapura berkembang sebagai pusat keuangan yang mencakup seluruh kota atau negara.

"Artinya, keberhasilan FC sangat ditentukan oleh kejelasan arah, siapa target pelakunya, produk keuangan apa saja yang dikembangkan, dan peran apa yang ingin dimainkan di kawasan," terang Eko.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pemerintah RI Target Dana Investor Masuk PFII Bisa Mencapai Rp 500 T


Most Popular
Features