Investasi Saham VS Kripto Mana Lebih Untung? Ini Kata Pakar
Jakarta, CNBC Indonesia - Berinvestasi, entah di saham, kripto, hingga komoditas harus dilakukan sejak muda. Sebab, ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari strategi ini, mulai dari percepatan pencapaian kebebasan finansial hingga melawan ancaman inflasi yang menggerus pendapatan.
Di saham, investor bisa mendapatkan investasi yang menggiurkan. Sebagai contoh, capital gain saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sejak IPO tahun 2023 hingga sekarang mencapai 296% alias 98% per tahun.
Return saham itu sudah jauh melampaui rata-rata inflasi 10 tahun terakhir yang hanya sebesar 2,8% per tahun, bahkan saat mencapai puncaknya pada 2022 sebesar 4,21%.
Investasi aset kripto juga menggiurkan. Sebagai ilustrasi, harga Bitcoin pada 2010 hanya Rp73 dan sekarang sudah menyentuh Rp1,1 miliar per koin.
Return investasi komoditas, seperti XAUUSD, juga tak kalah besar asalkan paham risiko. Sudah menjadi khitah transaksi futures memberikan cuan besar yang sebanding dengan risiko.
Sejalan dengan itu, literasi keuangan di kalangan generasi muda, terutama mahasiswa harus digencarkan. Sebab, faktanya, literasi keuangan generasi penerus ini masih rendah. Akibatnya, banyak generasi muda yang bukannya berinvestasi, tapi malah terjerat judi online (judol).
Sejak dini, generasi muda harus belajar investasi. Dengan begini, mereka bisa terhindar dari jeratan judol dan mulai mengenal, bahkan mencoba investasi di berbagai instrumen legal.
Vier Abdul Jamal, Komisaris Aldicitra Sekuritas Sekuritas menuturkan, belajar investasi perlu dilakukan sejak muda. Sebab, waktu adalah aset terbesar yang tidak bisa dibeli kembali.Â
Dia menegaskan, ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari investasi di usia muda. Pertama, kebebasan finansial bisa leih cepat dibanding yang baru mulai di usia matang. Kedua, keuntungan investasi akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Intinya, makin Panjang waktu investasi, hasil akhirnya bisa tumbuh besar, meski modal awal kecil.
Ketiga, melatih mindset jangka panjang. Belajar investasi membuat orang lebih disiplin, tidak konsumtif, berpikir strategis, dan memahami risiko dan peluang. Keempat, melawan inflasi. Prinsipnya, nilai uang terus turun tiap tahun karena inflasi. Artinya, jika uang hanya disimpan tanpa berkembang, daya beli pemilik melemah.
Kelima, memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Intinya, kesalahan kecl hari ini bisa menjadi pengalaman berharga untuk masa depan.
Keenam, dia menerangkan, bisa membangun aset produktif lebih awal. Prinsipnya, aset produktif bekerja untuk kita, menghasilkan uang bahkan saat tidur.
Dia menambahkan, ada perbedaan besar budaya investasi di Indonesia, Amerika Serikat (AS), dan Indonesia. Di AS dan Eropa, investasi dianggap kebutuhan hidup, bukan pilihan. Banyak masyaakat muda mulai berinvestasi sejak usia 20-an. Mereka fokus pada pertumbuhan kekayaan 10-30 tahun.
"Di Indonesia, penurunan kecil sering memicu kepanikan. Banyak investor baru menjual saat harga turun dan membeli saat harga naik," kata dia.
Di dalam negeri, banyak investor tergiur pada skema cepat kaya, trading harian, dan spekulasi tinggi. Banyak investor berorientasi jangka pendek. Padahal, dia menuturkan, budaya investasi modern terus berkembang. Sayangnya, tingkat literasi dan pasar modal masih lebih rendah dibanding negara-negara barat.
Selain saham, dia menyatakan, ada beberapa instrumen investasi yang bisa digarap generasi muda, mulai dari komoditas, seperti XAUUSD atau USOIL, hingga aset kripto.
Senada, Presiden Direktur Pintu Andy Putra menyarankan para mahasiswa untuk segera memulai investasi legal, jangan terjebak judol. Lebih baik tempatkan dana di instrumen legal, mulai dari saham hingga aset kripto.
Dia menegaskan, prospek investasi kripto masih menjanjikan. Sebagai ilustrasi, harga Bitcoin (BTC) pada 2010 hanya Rp73, sedangkan saat ini sudah Rp1,1 miliar. "Artinya, orang yang masih memegang BTC sejak 2010 pasti dapat jackpot," ujar dia.
Apalagi, kata dia, kripto saat ini sudah diregulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2025. Transaksi ini bebas PPN ketika membeli dan hanya dikenakan PPN final saat menjual.
Dia menyatakan, kripto adalah aset keuangan favorit generasi muda. Berdasarkan survei, 60% investor kripto berusia 18-34 thun. Anak muda, kat adia, suka kripto karena dinamis, antara lain transaksi bisa 24 jam selama seminggu penuh. Artinya, pasar kripto tidak pernah tidur. Modal kripto juga tidak besar, minimal Rp11 ribu, pas untuk anak muda.
Ke depan, dia menyatakan, kripto adalah masa depan keuangan dunia. Sebagai contoh, AS sudah mendorong stable coin untuk memperkuat dolar. Kripto juga sudah menjamah bisnis.
"Sebagai contoh, proyek properti sudah bisa ditokenisasi. Ini membuka jalan investor kripto menjadi semacam pemegang saham proyek," kata dia.
Transaksi kripto di Indonesia, kata dia, juga cukup besar. Tahun lalu, nilainya mencapai Rp480 triliun.
Sementara itu, Asesor Profesi Pasar Modal B. Hari Mantoro menerangkan, investasi harus dilakukan sedini mungkin. Sebab, dana kas akan kena dampak inflasi. Sebaliknya, investasi mempertahankan daya beli, imbal hasil lebih tinggi daripada menabung.
Dia menyatakan, dampak nyata dari penurunan nilai mata uang ini sangat terasa pada harga barang pokok dan tersier di sekitar kita. Sebagai contoh, pada 1991, sebuah mobil Toyota Kijang Super Chassis dapat dibawa pulang dengan harga Rp 24,5 juta saja. Namun, 34 tahun kemudian, tepatnya pada 2026 ini, harga tipe penerusnya, Innova Zenix, telah melambung hingga Rp 438 juta, mengalami kenaikan fantastis sebesar 17,8 kali lipat.
"Oleh sebab itu, untuk mempertahankan daya beli, generasi diimbau untuk segera beralih dari budaya menabung (saving) ke budaya berinvestasi (investing)," jelas Hari.
Di sisi lain, Direktur Human Capital & Compliance BNI Mucharom menuturkan bahwa literasi keuangan adalah fondasi yang kuat untuk kesejahteraan finansial masyarakat. Hasil survei OJK 2022 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia masih berada di bawah 50%. Namun, berita baiknya adalah Indonesia telah mencatat peningkatan signifikan dari 2019.
Mucharom menambahkan, data ini telah memberikan gambaran yang jelas tentang area di mana seluruh pihak perlu fokus untuk memperbaiki literasi keuangan.
(ayh/ayh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]