MARKET DATA

Jadi Fondasi Masa Depan, Kebijakan Hilirisasi Untungkan Bisnis Antam

Teti Purwanti,  CNBC Indonesia
07 July 2026 15:11
Gedung Antam. (CNBC Indonesia TV)
Foto: Gedung Antam. (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC IndonesiaCEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani sejak awal 2026 menegaskan bahwa hilirisasi mineral adalah fondasi masa depan industri dan transisi energi Indonesia. Oleh karena itu, melalui Danantara, Rosan mendorong investasi jangka panjang dengan tata kelola yang kuat dan prinsip keberlanjutan.

"Hal Ini dilakukan agar nilai strategis sumber daya Indonesia tumbuh dan tetap berada di dalam negeri," ungkap Rosan dikutip Selasa (7/7/2026).

Sebagai salah satu BUMN, Rosan juga mendukung peran serta PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam dalam hilirisasi nikel, apalagi hilirisasi nikel menjadi pilar krusial dalam transisi energi melalui penyediaan bahan baku teknologi hijau, seperti nikel dan tembaga untuk baterai, khususnya dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik (EV) nasional.

Sehingga dalam jangka panjang, pertumbuhan industri baterai kendaraan listrik dapat meningkatkan nilai tambah bisnis nikel perusahaan.

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menerima penugasan khusus dari pemerintah dalam rangka percepatan program hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.

"Melalui berbagai proyek strategis yang terintegrasi, ANTM tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendukung penguatan kemandirian industri nasional serta posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global," ungkap dia.

Apalagi Antam sendiri telah menggandeng PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan bekerja sama dengan HYD Investment Limited, konsorsium yang terdiri dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., EVE Energy Co., Ltd., dan PT Daaz Bara Lestari Tbk dalam mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.

Pembangunan pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, tersebut mencapai progress 90% dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juli 2026 mendatang.

Kapasitas produksi pada fase pertama tersebut akan segera ditingkatkan melalui rencana ekspansi hingga mencapai minimal 15 GWh. Volume itu diperkirakan setara dengan kebutuhan untuk sekitar 250.000 unit kendaraan listrik.

Adapun total investasi awal keseluruhan proyek baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut mencapai US$ 5,9 miliar atau setara Rp 96,04 triliun (asumsi kurs Rp 16.278 per US$).

Proyek tersebut terdiri dari total enam usaha patungan (Joint Venture/JV) mulai dari proyek hulu hingga hilir. Detailnya, JV satu hingga tiga merupakan ekosistem baterai di sisi hulu. Sedangkan, JV empat hingga enam merupakan ekosistem baterai di sisi hilir.

Untuk diketahui, Antam berhasil mencatatkan kinerja positif dengan laba tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun pada tahun buku 2025. Capaian tersebut melonjak 106% dibandingkan laba tahun berjalan 2024 yang sebesar Rp3,85 triliun.

Pertumbuhan laba itu sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan yang naik 22% menjadi Rp84,64 triliun pada 2025, dibandingkan Rp69,19 triliun pada tahun sebelumnya. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh bisnis emas dan juga nikel.

(dpu/dpu) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jadi Pemain Utama Hilirisasi Nikel, Bisnis ANTAM Makin Menjanjikan


Most Popular
Features