MARKET DATA

Jadi Pemain Utama Hilirisasi Nikel, Bisnis ANTAM Makin Menjanjikan

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
06 July 2026 14:40
Gedung ANTAM (Detikcom)
Foto: Gedung ANTAM (Detikcom)

Jakarta, CNBC Indonesia -Indonesia sedang memasuki fase penting dalam perjalanan transisi energi, yang akan menjadi bagian dari fondasi ekonomi masa depan. PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), sebagai BUMN juga turut serta dalam memasuki fase penting ini, salah satunya lewat hilirisasi nikel.

Hilirisasi menjadi pilar krusial dalam transisi energi melalui penyediaan bahan baku teknologi hijau, seperti nikel dan tembaga untuk baterai, khususnya untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik (EV) nasional. Sehingga dalam jangka panjang, pertumbuhan industri baterai kendaraan listrik dapat meningkatkan nilai tambah bisnis nikel perusahaan.

ANTM sendiri telah menggandeng PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan bekerja sama dengan HYD Investment Limited, konsorsium yang terdiri dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., EVE Energy Co., Ltd., dan PT Daaz Bara Lestari Tbk dalam mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.

Pembangunan pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, tersebut mencapai progress 90% dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juli 2026 mendatang.

Kapasitas produksi pada fase pertama tersebut akan segera ditingkatkan melalui rencana ekspansi hingga mencapai minimal 15 GWh. Volume itu diperkirakan setara dengan kebutuhan untuk sekitar 250.000 unit kendaraan listrik.

Adapun total investasi awal keseluruhan proyek baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut mencapai US$ 5,9 miliar atau setara Rp 96,04 triliun (asumsi kurs Rp 16.278 per US$).

Proyek tersebut terdiri dari total enam usaha patungan (Joint Venture/JV) mulai dari proyek hulu hingga hilir. Detailnya, JV satu hingga tiga merupakan ekosistem baterai di sisi hulu. Sedangkan, JV empat hingga enam merupakan ekosistem baterai di sisi hilir.

Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menerima penugasan khusus dari pemerintah dalam rangka percepatan program hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.

"Melalui berbagai proyek strategis yang terintegrasi, ANTM tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendukung penguatan kemandirian industri nasional serta posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global," ungkap dia dikutip Jumat (3/7/2026).

Diketahui sepanjang 2025, produksi bijih nikel ANTM mencapai sebesar 16,11 juta wet metric ton(wmt) atau meningkat 62% dibandingkan capaian produksi pada 2024 sebesar 9,94 juta wmt. Dari sisi pemasaran, penjualan bijih nikel tercatat sebesar 14,58 juta wmt, tumbuh 75% dibandingkan 2024 sebesar 8,35 juta wmt.

Didorong dengan meningkatnya permintaan domestik, 2025 menandai kinerja produksi dan penjualan bijih nikel ANTM sebagai yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir sejak pemberlakuan larangan ekspor mineral.

Sementara untuk produk feronikel di tengah dinamika regulasi dalam negeri sepanjang 2025, ANTM menjaga stabilitas operasional dengan membukukan produksi sebesar 16.064 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan volume penjualan sebesar 10.528 TNi.

(dpu/dpu) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Emas Global Masih Tinggi, Emiten Ini Bakal Cuan Besar di 2026


Most Popular
Features