MARKET DATA

Gen Z Sandwich Generation Harus Persiapkan Ini Sebelum Pensiun

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
03 July 2026 13:55
Sejumlah penumpang Kereta Api menunggu keberangkatan di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis, (11/1/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Sejumlah penumpang Kereta Api menunggu keberangkatan di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis, (11/1/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)mad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia diperkirakan akan menghadapi lonjakan jumlah pensiunan pada 2050, yang mayoritas berasal dari generasi Z dan milenial. Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan bagi generasi muda untuk mulai mempersiapkan dana pensiun sejak dini agar tidak terjebak dalam fenomena sandwich generation.

Ketua Pengurus DPLK Sinarmas Asset Management Stephanus Rudi OK mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun 2015, sekitar 40 juta orang memasuki usia pensiun pada 2025 dan jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat pada dekade berikutnya.

"Belum ada lagi gejala ekonomi saat ini, itu udah 40 juta. Kemudian ledakan angka pensiunan yang berikut 70 juta pensiunan baru. Nah populasi dari Gen Z dan milenial ada di situ," ujar Stephanus dalam acara peluncuran DPLK Sinarmas Asset Management, di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat, (3/7/2026).

Menurutnya, peningkatan jumlah pensiunan berpotensi menjadi tantangan besar apabila tidak diimbangi kesiapan finansial masyarakat. Pasalnya, generasi produktif saat ini akan menghadapi risiko penurunan kesejahteraan saat memasuki usia pensiun jika tidak memiliki tabungan atau investasi jangka panjang.

Senada, Ketua Dewan Pengawas DPLK Sinarmas Asset Management Syarifudin Yunus menilai persoalan utama dana pensiun di Indonesia bukan hanya soal pendapatan, melainkan rendahnya literasi dan kesadaran masyarakat dalam mempersiapkan hari tua.

Akibatnya, banyak pensiunan yang menghadapi kesulitan ekonomi dan tetap bergantung pada anggota keluarga, atau membentuk generasi sandwich. Ia menjelaskan fenomena sandwich generation masih banyak terjadi di Indonesia, di mana seseorang harus menanggung kebutuhan ekonomi orang tua, pasangan, sekaligus anak-anaknya.

"Nah, saya mau mengatakan Indonesia ke depan itu orang tua jangan lagi kayak saya jadi inilah yang menjadi sasaran sebenarnya. Nah, kalau edukasi berhasil, bikin akses ke dapen lebih mudah. Semuanya sekarang di online," ungkap Syarifudin.

Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, PT Sinarmas Asset Management meluncurkan Dana Pensiun Lembaga Keuangan Sinarmas Asset Management (DPLK SAM). Produk tersebut menjadi dana pensiun pertama di Indonesia yang dikelola oleh perusahaan manajer investasi.

DPLK SAM mengusung pendekatan digital melalui platform SimPensiun yang memungkinkan masyarakat melakukan pendaftaran, memantau dana, mengubah pilihan investasi hingga mencairkan manfaat pensiun secara online. Platform tersebut dirancang untuk menjangkau generasi muda, khususnya generasi Z dan milenial yang mulai memasuki usia produktif.

Peluncuran DPLK SAM dilakukan di tengah masih rendahnya tingkat kepesertaan dana pensiun di Indonesia. Mengacu pada Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Dana Pensiun Indonesia 2024-2028, tingkat densitas industri dana pensiun hingga akhir 2023 baru mencapai 18,94% dari total 147,7 juta angkatan kerja berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Sebagai DPLK berbasis digital yang baru beroperasi, DPLK SAM menargetkan pertumbuhan agresif dalam beberapa tahun ke depan. Pada 2026, perusahaan membidik aset kelolaan sebesar Rp150 miliar dengan jumlah peserta mencapai 15.000 orang.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Utang Pindar Warga RI Rp101 T, Gen Z-Milenial Paling Banyak Nunggak


Most Popular
Features