MARKET DATA

IHSG Ditutup Naik 0,87%, Saham Bank Jumbo Diserbu

mkh,  CNBC Indonesia
02 July 2026 16:32
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas penguatan pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (2/6/2026). 

Setelah sempat naik lebih dari 1%, IHSG menutup hari dengan kenaikan 0,87% atau 49,44 poin. Indeks parkir di level 5.744,56. 

Meskipun pasar masih terbilang sepi, IHSG naik ditopang oleh hampir separuh penghuni bursa. Tercatat sebanyak 418 emiten di zona hijau, 311 stagnan, dan 230 turun. 

Likuiditas masih menjadi sorotan pada perdagangan hari ini. Nilai transaksi masih berada di bawah rata-rata harian, yakni Rp 10,96 triliun. Pun volume saham yang diperdagangkan juga relatif kecil, yaitu 19,18 miliar saham dalam 1,49 juta kali transaksi. 

Kapitalisasi pasar sedikit terangkat dari level Rp 10.000 triliun seiring dengan kenaikan IHSG dalam dua hari terakhir. 

Mengutip Refinitiv, ada tiga sektor yang menjadi penopang indeks, yaitu bahan baku (+2,22%), industri (+1,78%), konsumer non-primer (+1,74%), dan finansial (+1,67%).

Adapun nyaris separuh nilai transaksi hari ini disumbang oleh bank jumbo. BBRI, BBCA, dan BMRI menyumbang Rp 5,28 triliun. Seiring dengan hal tersebut emiten bank-bank tersebut juga menjadi penopang IHSG. 

BBCA berkontribusi 17,69 poin, BMRI 7,36 poin, dan BBRI 2,93 poin. Selain itu BRPT, VKTR, hingga TPIA juga masuk dalam daftar top movers hari ini. 

Adapun IHSG kembali menutup perdagangan di zona hijau hari ini meskipun dihantam sejumlah sentimen. Sebagaimana diketahui, Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit terjadi karena nilai ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar.

Defisit ini menjadi yang pertama sejak April 2020. Saat itu, neraca perdagangan Indonesia juga defisit sebesar US$0,38 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat inflasi di Indonesia sebesar 0,44% secara bulanan atau month to month (mtm) pada Juni 2026.

Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,79% dan inflasi tahunannya sebesar 3,34%.

Tekanan inflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu lebih tinggi dibanding kondisi Mei 2026 yang mengalami inflasi 0,28% mtm.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Reli 4 Hari, Hari Ini Ditutup Naik 1,15%


Most Popular
Features