MARKET DATA

Harga Minyak Terus Anjlok, Kini di Level US$70,82 per Barel

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
02 July 2026 10:25
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Kamis (2/7/2026) pagi, memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.55 WIB, harga minyak Brent berada di US$70,82 per barel, turun 1,05% dibanding penutupan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$67,74 per barel, melemah 1,22%. Dalam kurun kurang dari dua pekan, Brent telah anjlok sekitar 12% dari posisi US$80,57 per barel pada 19 Juni, sedangkan WTI terkoreksi hampir 11,6% dari US$76,60 per barel.

Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Doha berakhir dengan hasil yang dinilai positif.

Pemerintah Qatar mengungkapkan kedua negara berhasil mencapai kemajuan dalam negosiasi yang berfokus pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelum pecahnya konflik menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Selama dua hari perundingan, kedua pihak membahas kelancaran lalu lintas maritim serta pencairan dana milik Iran yang sempat dibekukan. Di saat yang sama, arus kapal tanker mulai pulih menuju tingkat sebelum konflik setelah sempat terganggu akibat saling serang pada akhir pekan lalu.

Pulihnya aktivitas ekspor dari kawasan Teluk memicu ekspektasi bahwa pasokan minyak global akan semakin longgar. Pelaku pasar pun mulai mengalihkan perhatian pada potensi kelebihan suplai, terlebih ketika negara-negara produsen yang tergabung dalam OPEC+ diperkirakan kembali meningkatkan target produksi pada pertemuan Minggu mendatang.

Reuters menyebut kenaikan kuota produksi untuk Agustus berpotensi mencapai sekitar 188.000 barel per hari, sama seperti tambahan produksi pada Juni dan Juli. Prospek tambahan pasokan tersebut memperkuat tekanan jual di pasar minyak, terlebih persaingan memperebutkan pangsa pasar diperkirakan semakin ketat setelah Selat Hormuz kembali terbuka.

Dari Amerika Serikat, data persediaan minyak sebenarnya masih memberi sedikit penopang. Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pada pekan lalu, level terendah sejak September 2018. Namun penurunan tersebut lebih kecil dibanding ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penyusutan 4,5 juta barel.

CNBC Indonesia

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Minyak Menguat Lagi, Pasar Pantau Perkembangan Selat Hormuz


Most Popular
Features