MARKET DATA

Ini Penyebab IHSG Melesat Lebih dari 1%

Redaksi,  CNBC Indonesia
02 July 2026 09:34
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026), melanjutkan kenaikan yang dicatatkan IHSG pada perdagangan hari sebelumnya.

Hingga pukul 09.16 WIB, IHSG menguat 1,22% atau naik 69 poin ke 5.764. Adapun posisi tertinggi IHSG pada perdagangan pagi ini berada di level 5.773,48.

Nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp 1,68 triliun dengan volume perdagangan 2,78 miliar saham yang diperdagangkan dalam 200 ribu kali transaksi. Sebanyak 356 saham menguat, 162 saham melemah, sementara 165 saham bergerak stagnan.

Mengutip data Refinitiv, nyaris seluruh sektor perdagangan menguat dengan hanya kesehatan yang mengalami koreksi tipis hari ini. Adapun sektor yang naik paling kencang termasuk barang baku (+2,57%), utilitas (+1,85%), finansial (+1,44%) dan properti (+1,36%).

Saham-saham blue chip dan yang terafiliasi grup konglomerasi bisnis juga menguat signifikan hari ini.

Saham tiga bank raksasa RI tercatat menjadi penopang utama kinerja IHSG hari ini. Bank Central Asia (BBCA) tercatat menyumbang penguatan 17,69 indeks poin, Bank Mandiri (BMRI) sebesar 9,82 indeks poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 4,39 indeks poin dan Bank Negara Indonesia (BBNI) 2,64 indeks poin.

Secara lebih luas seluruh bank kakap RI, termasuk KBMI III, kompak menguat dipimpin oleh kenaikan harga saham BBCA dan BMRI.

Sementara itu emiten konglo juga ikut menjadi penggerak kinerja IHSG dengan sumbangan terbesar datang dari AMMN, BRMS, BREN dan MORA. Tercatat seluruh saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu menguat hari ini.

Emiten tambang emas juga tercatat kompak naik hari ini, dengan BRMS dan ANTM ikut menjadi penopang kinerja indeks.

Memasuki hari kedua semester II-2026, pasar keuangan Indonesia akan dihadapkan pada sejumlah sentimen, mulai dari data ekonomi hingga pidato chaiirman The Fed Kevin Warsh.

Defisitnya neraca dagang, ambruknya PMI Manufaktur, naiknya inflasi serta pandangan The Fed yang masih hawkish bisa menjadi tekanan bagi rupiah hingga IHSG hari ini.

Sementara itu, Bursa Asia-Pasifik bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (3/7/2026), mengikuti penurunan yang terjadi di Wall Street seiring aksi ambil untung investor pada saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor.

Melansir CNBC, indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan di kawasan dengan anjlok 5,36% saat pembukaan perdagangan. Penurunan tajam tersebut mendorong Korea Exchange (KRX) menghentikan sementara perdagangan selama lima menit guna meredam volatilitas pasar, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 3,55%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,70%, sedangkan Topix masih mampu menguat tipis 0,13%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terkoreksi 0,59% pada awal perdagangan.

Sentimen negatif di Asia mengikuti pergerakan bursa Amerika Serikat yang ditutup melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat. Indeks Dow Jones sempat melonjak 423,46 poin dan menyentuh rekor tertinggi intraday sebelum akhirnya memangkas seluruh kenaikan dan ditutup nyaris stagnan.

Sementara itu, indeks S&P 500 turun 0,2% dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,7%. Pelemahan tersebut terjadi seiring investor mengurangi eksposur pada saham-saham produsen chip yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Ditutup Naik 1,22% Hari Ini, Pasar Euforia Ekonomi Tumbuh 5,6%


Most Popular
Features