Breaking News! Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000 Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali mengawali perdagangan pagi ini dengan koreksi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda pada pembukaan perdagangan Kamis (2/7/2026) melemah 0,17% ke level Rp17.960/US$ yang sekaligus mendekatkan rupiah pada level psikologisnya di Rp18.000/US$
Pelemahan ini melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (1/7/2026), rupiah juga ditutup melemah 0,31% ke posisi Rp17.930/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau bergerak stabil di level 101,400.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global. Greenback cenderung stabil karena pelaku pasar menunggu rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS), yakni nonfarm payrolls.
Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memberi gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan perkiraan median ekonom yang dihimpun Reuters, jumlah pekerja AS diperkirakan bertambah 110.000 pada Juni 2026. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,3%.
Ketua The Fed Kevin Warsh pada Rabu mengatakan ekspektasi inflasi dan risiko harga telah mereda dalam beberapa pekan terakhir. Di sisi lain, laporan ADP menunjukkan penyerapan tenaga kerja swasta masih meningkat, meskipun lebih rendah dari perkiraan.
Meski begitu, dolar AS masih mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini. Pasar tenaga kerja yang relatif kuat juga menopang prospek pertumbuhan ekonomi AS, terutama setelah penciptaan lapangan kerja dalam tiga bulan terakhir tercatat lebih tinggi dari ekspektasi.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga masih mencermati data inflasi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/7/2026).
BPS mengumumkan inflasi Indonesia sebesar 0,44% secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada Juni 2026. Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi tercatat sebesar 3,34%.
Tekanan inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan kondisi Mei 2026 yang mencatat inflasi 0,28% mtm.
BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar adalah sektor transportasi, yakni sebesar 2,29%. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,28%.
"Terjadi inflasi sebesar 0,44%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Realisasi inflasi ini juga lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar. Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 sebelumnya diperkirakan naik 0,30% secara bulanan.
Sementara itu, secara tahunan, inflasi sebelumnya diperkirakan mencapai 3,2%. Artinya, inflasi Juni 2026 baik secara bulanan maupun tahunan berada di atas perkiraan pasar.
(evw/evw) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]