Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Tunggu Stok AS & Arah Negosiasi
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Rabu (1/7/2026) pukul 10.00 WIB setelah sehari sebelumnya terkoreksi.
Merujuk data Refinitiv, harga minyak Brent berada di US$73,20 per barel, naik 0,38% dibandingkan penutupan Selasa (30/6/2026) di US$72,92 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 0,40% menjadi US$69,78 per barel dari US$69,50. Kenaikan tersebut masih belum mampu menghapus pelemahan tajam yang terjadi sepanjang Juni, ketika Brent turun dari kisaran US$80 per barel pada pertengahan bulan ke level US$72-73 pada akhir bulan.
Pergerakan minyak masih dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Reuters melaporkan utusan Amerika Serikat yang tiba di Doha belum menggelar perundingan tingkat tinggi dengan Iran. Pertemuan yang berlangsung pekan ini masih berada di level teknis dan berfokus pada isu keamanan kawasan.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz belum benar-benar hilang, meski kekhawatiran sempat mereda setelah gencatan senjata sementara. Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur pelayaran tersebut.
Dari sisi fundamental, pasar menghadapi kombinasi kabar yang saling bertolak belakang. Energy Information Administration (EIA) melaporkan produksi minyak mentah Amerika Serikat mencapai rekor baru 13,93 juta barel per hari pada April, didorong peningkatan produksi di Texas dan New Mexico. Morgan Stanley bahkan memperkirakan pasar minyak global akan mengalami surplus sekitar 4,8 juta barel per hari pada 2027.
Di sisi lain, analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS kembali menyusut sekitar 4,5 juta barel pada pekan lalu. Apabila terealisasi, penurunan tersebut akan menjadi penarikan stok selama 10 pekan berturut-turut, menyamai rekor yang pernah terjadi pada Januari 2018.
Secara teknikal, harga minyak masih berada dalam kondisi oversold setelah Brent bertahan di area tersebut selama 13 hari berturut-turut dan WTI selama 11 hari. Sepanjang Juni, Brent mencatat penurunan sekitar 21%, menjadi koreksi bulanan terdalam sejak gejolak pandemi Covid-19 pada Maret 2020.
Kini pelaku pasar menunggu dua katalis utama, yakni hasil laporan resmi cadangan minyak mingguan dari EIA serta perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang akan menentukan arah pasokan minyak global dalam beberapa pekan mendatang.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]