Rupiah Melemah 0,22%, Dolar AS Ditutup Naik ke Rp17.875
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (30/6/2026).
Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda harus mengakui kekuatan greenback setelah ditutup melemah 0,22% ke level Rp17.875/US$. Koreksi ini sekaligus memutus tren positif rupiah yang sebelumnya berhasil menguat dalam tiga perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sudah berada di zona merah sejak pembukaan. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,08% ke level Rp17.850/US$, lalu tekanannya semakin dalam seiring berjalannya waktu.
Rupiah bergerak di rentang Rp17.850-Rp17.908/US$ sepanjang perdagangan.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,15% ke level 101,257.
Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi di tengah dinamika penguatan dolar AS di pasar global, menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS).
Fokus pasar kini tertuju pada laporan tenaga kerja AS untuk periode Juni yang akan dirilis pada Kamis pekan ini. Data tersebut menjadi penting karena dalam tiga bulan terakhir, penciptaan lapangan kerja AS tercatat lebih kuat dari perkiraan pasar.
Kondisi tenaga kerja yang solid membuat ekspektasi terhadap arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) tetap menjadi perhatian. Pasar masih mencermati apakah data tersebut akan memperkuat peluang The Fed mempertahankan sikap hawkish pada sisa tahun ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli berada di 31,50%. Sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan di level saat ini mencapai 68,50%.
Dari dalam negeri, pemerintah bersama DPR, Bank Indonesia (BI), dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) telah menggelar rapat koordinasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memitigasi dampak ketidakpastian global.
Dari sisi fiskal, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memastikan kondisi APBN masih terjaga. Defisit hingga Mei 2026 tercatat sebesar 0,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan diperkirakan tetap berada di bawah batas 3% hingga akhir 2026.
"Kondisi fiskal itu masih sangat terjaga dengan baik. Defisit hingga bulan Mei kemarin 0,7% dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun juga masih di bawah 3% jadi masih sangat terjaga," kata Juda.
Stabilitas fiskal menjadi salah satu hal yang dicermati pasar, terutama di tengah tekanan global terhadap nilai tukar dan kebutuhan menjaga kepercayaan investor.
(evw/evw) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]