MARKET DATA
CNBC Insight

AS Incar Harta Karun Baru di Negara Muslim Terbesar Asia

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
30 June 2026 12:12
Pejalan kaki berjalan di dekat menara Baiterek (Bayterek) di bawah langit berawan, di Astana, pada 30 Oktober 2023. (Photo by Ludovic MARIN / AFP/File Foto)
Foto: Pejalan kaki berjalan di dekat menara Baiterek (Bayterek) di bawah langit berawan, di Astana, pada 30 Oktober 2023. (AFP/LUDOVIC MARIN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) sedang mengincar "harta karun" baru di negara mayoritas Muslim terbesar di Asia Tengah, yakni Kazakhstan. Harta karun yang dimaksud bukan minyak atau gas bumi, melainkan tungsten, logam strategis yang kini menjadi rebutan negara-negara besar karena perannya yang vital bagi industri pertahanan dan teknologi modern.

Menurut laporan New York Times, dikutip Selasa (30/6/2026), besarnya kepentingan AS terhadap mineral tersebut membuat Presiden Donald Trump ikut turun gunung langsung mendorong kesepakatan yang membuka akses investor AS terhadap salah satu cadangan tungsten terbesar di dunia yang selama ini belum tergarap di sana.

"Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Kazakhstan telah memberikan akses kepada sekelompok investor Amerika yang memiliki hubungan dengan presiden dan menteri perdagangan terhadap salah satu cadangan tungsten terbesar di dunia yang belum tergarap," tulis New York Times.

Tungsten merupakan salah satu mineral paling penting dalam industri modern. Logam ini memiliki tingkat kekerasan yang sangat tinggi dan mampu bertahan dalam suhu ekstrem, sehingga banyak digunakan dalam industri pertahanan, semikonduktor, hingga berbagai peralatan teknologi tinggi.

Nilai strategis tungsten meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir seiring dominasi China dalam perdagangan logam tersebut. Situasi semakin memanas setelah Beijing mulai membatasi ekspor tungsten dan sejumlah mineral kritis lainnya, sehingga memicu kekhawatiran negara-negara Barat terhadap keamanan pasokan bahan baku penting bagi industri pertahanan dan teknologi.

Kondisi tersebut membuat AS dan sekutunya berlomba mencari sumber pasokan alternatif di luar China. Salah satu yang paling menjanjikan adalah Kazakhstan. Negara berpenduduk 70% Muslim ini diketahui menyimpan cadangan tungsten dalam jumlah besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut situs Britannica, Kazakhstan selama puluhan tahun merupakan bagian dari Uni Soviet dan dikenal sebagai pemasok berbagai bahan mentah strategis bagi Moskow. Mulai dari uranium hingga berbagai logam industri. Setelah Uni Soviet bubar pada 1991, banyak cadangan mineral di negara tersebut belum dikembangkan secara optimal sehingga kini menjadi incaran investor global.

Namun, proyek tambang tersebut juga memicu kontroversi politik di Amerika Serikat. New York Times menyoroti ada kelompok investor yang memperoleh akses terhadap proyek tersebut memiliki hubungan dengan keluarga Presiden Donald Trump dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick.

Sorotan semakin menguat setelah anak-anak kedua pejabat tersebut disebut mulai menjalin hubungan bisnis dengan para mitra yang terlibat dalam proyek yang tengah dinegosiasikan oleh pemerintahan ayah mereka.

"Anak-anak mereka kemudian mulai berbisnis dengan para mitra yang terlibat dalam kesepakatan yang sedang dinegosiasikan oleh ayah mereka, melanjutkan pola pengayaan diri yang selama ini menjadi sorotan terhadap lingkaran bisnis keluarga Trump," ungkap New York Times.

Kontroversi tersebut semakin menjadi perhatian mengingat tungsten merupakan mineral yang sangat dibutuhkan Amerika Serikat di tengah dinamika geopolitik belakangan ini. Sebab tungsten bisa untuk memproduksi hulu ledak rudal, jet tempur, chip komputer, dan berbagai barang strategis lainnya.

Kedekatan antara proyek tambang, pemerintah AS, dan lingkaran keluarga pejabat tinggi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai potensi konflik kepentingan, terutama karena Washington dinilai memainkan peran penting dalam terwujudnya kesepakatan tersebut.

(mfa/mfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Investor Kakap AS Lego 4,37 Juta Saham SMGR, Raup Duit Segini


Most Popular
Features