MARKET DATA

Pelaku Pasar Pantau Konflik AS-Iran, Bursa Asia Dibuka Beragam

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
29 June 2026 08:36
papan saham elektronik yang menunjukkan kerugian awal indeks Nikkei 225 Jepang di sebuah perusahaan sekuritas, Kamis, 3/4/2025 di Tokyo..(AP Photo/Shuji Kajiyama)
Foto: AP/Shuji Kajiyama

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik bergerak beragam pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat menyusul serangan terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pelaku pasar kini mencermati potensi berlanjutnya konflik yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan pasokan energi global.

Melansir CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,35% pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks Topix masih mampu menguat 0,43% di tengah sentimen pasar yang cenderung berhati-hati.

Pasar saham Korea Selatan mengalami tekanan cukup besar dengan indeks Kospi merosot 2,29% saat pembukaan perdagangan. Di sisi lain, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru menguat 0,97%.

Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 naik 0,41%. Pergerakan yang beragam di kawasan mencerminkan respons investor terhadap meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Ketegangan kembali memanas setelah AS menyerang sejumlah target militer Iran pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas aksi Teheran yang melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.

Presiden AS Donald Trump kemudian mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran melalui unggahan di Truth Social. Trump menyebut pesawat militer AS telah menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pesisir karena dianggap kembali melanggar perjanjian gencatan senjata.

Di sisi diplomatik, upaya perundingan untuk mengakhiri konflik dilaporkan mengalami kebuntuan. Sumber dari Pakistan yang terlibat dalam proses negosiasi mengatakan pembicaraan saat ini ditangguhkan, meskipun seluruh pihak masih mempertahankan perwakilan mereka di Swiss untuk melanjutkan diskusi jika situasi memungkinkan.

Harga minyak dunia turut merespons perkembangan tersebut dengan kenaikan pada awal perdagangan. Minyak Brent menguat 0,8% menjadi US$72,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 1,1% ke level US$70 per barel.

Di Amerika Serikat, kontrak berjangka saham utama bergerak menguat meskipun pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Futures Dow Jones naik 124 poin atau 0,2%, sedangkan futures S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing menguat 0,4% dan 0,5%.

Wall Street sendiri baru saja menutup pekan yang beragam dengan rotasi investasi keluar dari saham teknologi menuju sektor lain. Sepanjang pekan lalu, S&P 500 terkoreksi hampir 2% dan Nasdaq Composite anjlok 4,6%, sementara Dow Jones justru menguat 0,6%.

Saham-saham teknologi raksasa menjadi sumber tekanan utama bagi pasar. Nvidia dan Alphabet masing-masing kehilangan lebih dari 8%, sedangkan Meta Platforms, Apple, dan Amazon turun lebih dari 4%.

Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menilai investor mulai mengalami "kelelahan AI" atau AI fatigue. Menurutnya, pasar mulai mempertanyakan apakah belanja besar-besaran perusahaan teknologi untuk infrastruktur kecerdasan buatan akan menghasilkan keuntungan yang sepadan di masa depan.

Pekan ini juga menandai berakhirnya perdagangan bulan Juni. Hingga penutupan Jumat lalu, S&P 500 tercatat turun sekitar 3% sepanjang bulan ini, Nasdaq merosot lebih dari 6%, sementara Dow Jones masih mencatat kenaikan lebih dari 1%.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ada Konflik AS-Iran hingga Harga Minyak, Bursa Asia Dibuka Bervariasi


Most Popular
Features