MARKET DATA
CNBC Insight

Crazy Rich Jakarta Tak Punya Anak, Bingung Kasih Warisan ke Siapa

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
27 June 2026 12:45
Ilustrasi Harta Karun Emas. (Dok. Pixabay)
Foto: Ilustrasi Harta Karun Emas. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik sejarah Batavia pada abad ke-19, terdapat sosok konglomerat yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya pada masanya. Ia adalah Jannus Theodorus Bik (1796-1875), seorang tuan tanah keturunan Belanda yang memiliki kekayaan melimpah, namun menghadapi persoalan yang tak biasa yaitu tidak memiliki anak sebagai penerus hartanya.

Jannus tiba di Batavia dengan kakaknya Andrianus Johannes Bik pada periode awal 1810. Ia merantau dari Belanda ke wilayah Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda untuk mengadu nasib.

Awalnya, Jannus bekerja sebagai pelukis untuk pemerintah Hindia Belanda. Berkat keahliannya, Jannus menjadi sosok penting di kalangan pelukis kala itu. Maestro lukis Indonesia, Raden Saleh, belajar langsung darinya.

Dari profesinya sebagai pelukis, Jannus mengumpulkan kekayaan. Ketimbang boros, ia justru cerdas dalam mengelola keuangan dengan menginvestasikan hasil jerih payahnya ke tanah.

Menurut Almanak van Nederlandsch-Indië (1900), Jannus tercatat sebagai pemilik tanah di berbagai wilayah Batavia, seperti Tanah Abang, Pondok Gede, Cilebut, Ciluar, hingga Cisarua. Lahan-lahan itu dimanfaatkan untuk perkebunan padi, kopi, dan teh.

Pundi-pundinya kian bertambah usai menikahi Wilhelmina Reynira Martens, janda pengusaha kaya Van Riemswijk, di era 1840-an. Namun, pernikahan itu tak dikaruniai anak.

Menjelang akhir hayatnya, sekitar tahun 1870-an, Jannus memutuskan membagi hartanya kepada dua keponakan, Bruno dan Jan Martinus, anak dari sang adik. Saat itu, keduanya masih berusia 30-an tahun.

Warisan yang diterima bukan kaleng-kaleng. Bruno dan Martinus memperoleh tanah di Cisarua seluas 17.500 bau, atau sekitar 14.000 hektare. Bruno mengelola 9.000 bau, sementara sisanya dikelola Martinus.

Di tangan mereka, tanah warisan tersebut berkembang pesat. Bruno, misalnya. Menurut Bataviaasch Nieuwsblad (14 Juni 1930), ia membiarkan para petani lokal mengelola lahan tanpa tekanan, asalkan kerja sama berjalan saling menguntungkan.

Tak hanya itu, Bruno dikenal sebagai sosok dermawan. Ia memilih tak memperluas lahan dengan membuka hutan secara masif dan aktif dalam kegiatan sosial, termasuk menyumbang pembangunan rumah sakit dan masjid. Karena sikapnya itu, masyarakat lokal sangat menghormatinya sebagai "orang Belanda yang baik hati."

Selama 50 tahun, Bruno dan Martinus mengelola tanah Cisarua. Bruno wafat pada 31 Maret 1921, disusul Martinus lima tahun kemudian, tepatnya 15 Maret 1926, seperti dicatat dalam buku Genealogische en Heraldische Gedenkwaardigheden Betreffende Europeanen op Java (1935). Setelah mereka wafat, lahan warisan itu dikelola oleh para keturunan, sebelum akhirnya dijual ke berbagai pihak.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tak Mau Terima Warisan Rp89 Triliun, Anak Crazy Rich Pilih Jadi Biksu


Most Popular
Features