Sukses Transaksi Tanpa Dolar sama China, BI Targetkan India-Korsel
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan minat transaksi antar negara menggunakan mata uang lokal antara Indonesia dengan negara lain cukup banyak tidak hanya dengan China saja, di mana BI sudah membidik beberapa negara dalam transaksi mata uang lokal tersebut.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan beberapa negara mulai tertarik dengan transaksi local currency settlement (LCT), setelah BI melakukan kerja sama dengan bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) dan bank sentral Hong Kong (Hong Kong Monetary Authority/HKMA).
"Reaksi terhadap LCT itu luar biasa. Kemarin setelah kita tekan MoU dengan PBoC dan HKMA, itu benar-benar hal yang mungkin dari beberapa negara kawasan itu juga surprise dalam artinya, oh ini berarti ada suatu kesepakatan yang besar gitu kan, sehingga ini akhirnya mendorong beberapa negara yang memang juga mereka trading partner kita," kata Destry dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dikutip Rabu (24/6/2026).
Destry melanjutkan ada India yang mulai tertarik dengan LCT dan saat ini sedang dalam tahap pembahasan menuju penandatanganan kerja sama.
"Seperti ada India, yang kita juga mereka cepat untuk membuat LCT bersama, karena sebenarnya kita sudah in the process, cuman kan membuat MoU itu kan gak bisa seketika kan, karena kan harus memikir nanti gimana implementasi ya, dan masing-masing negara pasti punya aturan-aturan sendiri," lanjutnya.
Selain China dan India, ada negara lain seperti Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi yang direncanakan akan masuk dalam kerja sama LCT.
"Keberhasilan kita dengan PBoC dan HKMA, ini akhirnya men-trigger beberapa negara lainnya untuk segera merealisasikan kerjasama dengan kita. Jadi ada India, kemudian juga yang dalam pipeline kita kan yang sudah mulai sebenarnya Korea Selatan, tapi ini yang kita juga terus kita dorong juga, kemudian juga Uni Emirat Arab, juga sebenarnya kita juga lagi mau usahakan yang di Arab Saudi, itu juga in the process gitu, jadi kita makin memperluas lah gitu," jelasnya.
Sebelumnya, Destry menjelaskan nilai LCT antara Indonesia dengan China pada Mei 2026 mencapai US$9 miliar atau sekitar Rp160,52 triliun (asumsi kurs Rp17.835/US$), sehingga jika dihitung-hitung, maka sepanjang 2026 dari Januari hingga Mei, nilainya sudah mencapai US$ 22 miliar atau sekitar Rp392,37 triliun.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dengan penyelesaian perdagangan dan investasi langsung rupiah dan renminbi mengurangi kebutuhan dolar untuk berbagai transaksi.
"Kita sebut diversifikasi dan akan terus diperkuat. Untuk kedua terus mendorong perbankan dan pengusaha dalam negeri begitu juga Tiongkok agar semakin banyak menggunakan rupiah - renmimbi dan ini sejalan internasionalisasi renminbi," kata Perry dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (18/6/2026).
(chd/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]